PERPUSTAKAAN keliling dengan menggunakan mobil merupakan hal
lumrah. Bahkan di daerah perkotaan, mobil perpustakaan sudah menjadi pemandangan
yang biasa. Tapi, apa yang dilakukan kelompok Pencinta Bacaan Anak (KPBA) yang
dikomandani Murti Bunanta justru berbeda dari kelaziman. KPBA menggunakan
kendaraan bermotor roda dua sebagai sarana perpustakaan keliling.
Ide perpustakaan keliling dengan sepeda motor ini berawal
dari masalah daya jangkau. Dengan mobil perpustakaan, tidak semua daerah pelosok
bisa didatangi. Ketika prasarana jalan tidak mendukung atau jalan yang dilalui
terlalu kecil, maka mobil perpustakaan tidak mencapai tempat yang dituju. Untuk
bisa memenuhi minat baca anak-anak di pelosok, KPBA membuat perpustakaan
keliling dengan sepeda motor.
"Masih banyak anak-anak yang sebenarnya punya minat
baca, tetapi tidak punya bahan bacaan. Karena mereka tingga di daerah terpencil
dan sulit dijangkau transportasi mobil. Ini yang menjadi ide untuk membuat
perpustakaan keliling bermotor," ungkap Murti di sela peresmian
perpustakaan keliling sepeda motor di kantor KPBA, jakarta, kemarin.
Perpustakaan sepeda motor, tentu bukan sekedar orang
bersepeda motor dengan membawa tumpukan buku bacaan. Untuk menarik perhatian
anak-anak, sepeda motor dibuat semacam rak buku. Rak itu dapat memajang puluhan
sampai ratusan judul buku bacaan. Agar menarik, rak itu dilukis gambar kisah
yang terdapat pada buku bacaan Timun Emas dan Joko Kendil, serta yang lainnya.
"Biaya modifikasinya memang cukup mahal. Makanya,
jumlahnya pada awal ini masih sangat terbatas," ungkap Murti tanpa
memberitahukan berapa dana yang dikeluarkan untuk memodifikasi sepeda
perpustakaan itu. Bahkan karena keterbatasan dana, pada tahap awal KPBA hanya
mampu menyediakan lima unit perpustakaan keliling bermotor (PKB). Tidak hanya
itu, PKB baru dioperasikan di tiga daerah, yakni Aceh, Purwakarta, dan Maumere.
Alasan pemilihan tiga daerah itu, menurut Murti, didasarkan
pada tingkat kebutuhan Aceh, misalnya, dipilih karena setelah terjadinya bencana
tsunami, banyak anak-anak di pengungsian yang tidak mendapatkan kesempatan untuk
membaca buku.
"Memang sudah ada perpustakaan keliling dengan mobil,
tetapi tidak mampu menjangkau ke daerah-daerah yang jalannya masih rusak. Kalau
pakai motor, kan bisa," ujar Murti yang juga pengajar di Fakultas Ilmu
Budaya Universitas Indonesia itu.
Begitu juga dengan Purwakarta dan Maumere. Dua daerah itu
masih belum terjangkau buku bacaan. "Kami memilih daerah yang masih
menganggap buku bacaan sebagai bawang mewah. Di Maumere, misalnya, ada daerah
yang anak-anaknya mempunyai buku tulis saja sangat langka, apalagi buku
bacaan," kata Murti.
Pengamat sosial Imam B Prasodjo, yang juga hadir dalam acara
peresmian, menyayangkan minimnya perhatian orang-orang yang berlebihan uang atau
konglomerat terhadap dunia perpustakaan. Beda dengan di luar negeri yang begitu
banyak orang-orang kaya yang mendirikan foundation untuk kegiatan sosial,
misalnya Rockfeller atau Ford.
"Makanya, saya berharap upaya KPBA ini bisa mendorong
kesadaran para konglomerat di Indonesia untuk 'membuang' uangnya. Tidak hanya
untuk membeli rumah yang gede-gede atau pelesiran ke luar negeri, tetapi juga
bisa membantu untuk perpustakaan, termasuk perpustakaan bermotor ini,"
ungkapnya.
Imam menilai, seharusnya menumbuhkan minat baca sebaiknya
sejak dini. Sayangnya bagi anak-anak di daerah terpencil, menumbuhkan minat baca
sulit untuk dilakukan. Padahal, minat baca mereka ada, tetapi buku-buku yang mau
dibaca tidak ada.
Dan untuk menumbuhkan minat baca anak-anak itu, KPBA menjalin
kerja sama dengan dengan sejumlah lembaga swadaya masyarakat. Antara lain Pos
Keadilan Peduli Umat Yayasan SOS, dan lain-lain. Eri Anugerah.