Lebih dari 60 tahun merdeka, nampaknya tidak juga membuat dunia pendidikan
kita semakin baik. Belum lama ini, kita mendengar soal ujian nasional yang bocor
atau sengaja dibocorkan dimana-mana. Kecurangan dalam ujian itu juga tak kalah
banyaknya. Sarana dan prasarana sekolah serta fasilitas pendidikan di banyak
daerah jauh dari kata memadai. Sementara di pihak lain, pemerintah semangat
sekali menaikkan standar kelulusan dari tahun ke tahun.
Pemerintah seolah tak sadar, bahwa sebenarnya mereka telah gagal dan tidak
lulus ujian untuk menyediakan fasilitas pendidikan yang layak bagi rakyatnya.
Bangunan sekolah yang rusak, buku-buku yang tak mencukupi, rasio jumlah guru dan
murid yang tak berimbang masih menjadi fenomena dunia pendidikan kita. Namun,
pemerintah tetap saja menjadikan nilai ujian nasional sebagai satu-satunya
standar kelulusan bagi siswa.
Apa yang salah dari semua ini? Benarkah sistem pendidikan kita memang sudah
kacau? Atau justru pemerintah tidak pernah peka melihat kondisi riil di
masyarakat? Untuk mencari jawaban atas pertanyaan itu, Newsdotcom kembali
mengajak pejabat Republik Mimpi untuk turun ke masyarakat tepatnya di sebuah
desa di pinggiran Purwakarta. Bertemu dengan siswa sekolah dasar yang gedung
sekolahnya rubuh. Untuk melihat dengan hati dan mendengar dengan bijak keluhan
mereka atas kondisi pendidikan selama ini.
Kita lihat bersama kondisi pendidikan kita, agar tumbuh empati atas semua
ini. Bukan sekedar baru bisa mimpi tetapi juga berbuat nyata untuk
mewujudkannya.