Jumat, 10 September 2010 - situs ini sudah dikunjungi oleh orang | admin | english 

people to people aid


dari kita untuk sesama

kalender kegiatan
September 2010
M S S R K J S
1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930
30 Hari G30S/PKI

Down and Out? Not This Neighborhood
sumber: Jakarta Globe, 11 Juli
Ayo.. Hijaukan kembali bumi Merden
sumber: Portal Kanal Warga, 30 Oktober
Kedutaan Besar AS Gelar Buka Puasa Bersama Anak-Anak
sumber: siaran-pers Kedutaan AS, 4 September
 

:.•Kami dan Pers

pikas.bkkbn.go.id 27 Juni 2006

Menyambut Hari Keluarga Nasional XI : Membentuk Keluarga Cerdas

PERCAYAKAH Anda bahwa perilaku Anda sekarang ini adalah manifestasi apa yang dilakukan kedua orang tua, dan sanak keluarga Anda ketika masih kanak-kanak?

Selama masa keemasan yaitu pada usia 0 hingga lima tahun, anak ibarat tempayan kosong dan siap menampung dan menerima segala hal yang dimasukkan dan diberikan ke dalamnya. Baik atau buruk muatan itu, diterima begitu saja tanpa melalui proses seleksi. Proses ini berlangsung hingga masa keemasan itu berakhir nantinya.

Di masa-masa setelah itu, ketika semua muatan telah terjejali, anak telah menjelma sebagai 'makhluk isian', sebagai wujud apa yang didapatnya selama masa keemasan. Kalau ia dibesarkan dengan perlakuan kasar, kata-kata kotor, makian dan hinaan, maka besar kemungkinan, ia akan menjelma menjadi manusia yang kasar dan penuh dengan perilaku yang negatif.

Namun kalau ia dibesarkan dengan rasa kasih sayang, nilai-nilai agama, pengetahuan yang positif, dan rasa aman, maka besar kemungkinan pula, ia akan tumbuh menjadi manusia penyayang, humanis, dan dipenuhi sikap diri yang positif.

Keluarga, tempat awalnya seorang anak mendapatkan semua pengalamannya sebagai manusia, bertanggung jawab penuh terhadap arah kepribadian anak. Kesalahan mendidik yang dilakukan keluarga pada masa keemasan anak, sama artinya dengan menjerumuskan si anak ke dalam perilaku buruk seumur hidup.

Hal ini terungkap dalam diskusi interaktif Afternon Tea di Kantor Media Indonesia dengan tema Smart Family, Smart Nation, dalam rangka Hari Keluarga Nasional (Harganas) XI, beberapa waktu yang lalu.

Dalam kesempatan itu, pembicara yang menegaskan profesinya sebagai ibu rumah tangga (domestic manager), Neni Utami Adiningsih, menceritakan kisah Victor si anak serigala, yang diambilnya dari buku The Wild Boy of Aveyron, karya Jean Mare Gaspard Itard.

Diceritakan, Victor merupakan anak terbuang yang dibesarkan oleh segerombol serigala, di sebuah hutan. Victor yang masa keemasannya dihabiskan dengan pendidikan ala serigala tumbuh menjadi anak manusia berkelakuan serigala. Ia pandai mengaum bagai seekor serigala, dan bertindak tanduk persis seperti keluarga angkatnya itu.

Upaya sejumlah tokoh dalam cerita itu untuk mengembalikan Victor kepada kodrat kemanusiaannya menemui jalan buntu, karena Victor telah menjelma bagai seekor serigala. Betapa mengerikannya fakta bahwa masa lima tahun awal pembentukan manusia, memegang peranan dalam memberi gambaran manusia tersebut di sepanjang hidupnya.

Hasil pembelajaran: Dalam diskusi itu, Neni yang penulis dan pemerhati masalah keluarga ini, mengatakan bahwa apa yang dilakukan anak merupakan hasil pembelajarannya atas stimuli dari lingkungan.

Artinya, bila sepasang suami istri ingin mendapatkan anak yang cerdas, baik dari segi intelektual, moral, emosional dan spiritual, maka mereka harus menempatkan anak dalam keluarga yang cerdas pula.

"Sayangnya saat ini, entah sadar atau tidak, kita semakin tidak peduli akan eksistensi keluarga sebagai lingkungan awal proses 'pemanusiaan'. Yang lebih celakanya lagi, hal ini menjauhkan anak dari upaya menjadikannya 'manusia' yang seorang humanis," kata Neni.

Neni menyatakan keprihatinannya terhadap banyaknya suami-istri yang justru mereduksi fungsi keluarga yang idealnya merupakan sebuah lembaga pendidikan, menjadi sekadar hotel. Keluarga hanya tempat untuk menginap saja.

Ia pun mengkritisi sejumlah fakta bahwa istilah dan program kerja pemerintah, justru merendahkan pekerjaan ibu rumah tangga yang dipandangnya teramat penting dalam membangun generasi baru. Sebutan 'tidak bekerja' bagi ibu rumah tangga, seperti dalam kartu tanda penduduk, dinilai Neni mengecilkan peran ibu yang sebetulnya memegang peranan penting dalam kemajuan bangsa.

Kecerdasan emosional: Pada diskusi "Smart Family, Smart Nation" itu, para pembicara yang hadir, antara lain sosiolog Imam B Parasodjo, Ketua Komnas Perlindungan Anak Seto Mulyadi, dan pemerhati masalah keluarga dan anak Neni Utami Adiningsih. Secara implisit, para pembicara setuju bahwa kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh peran keluarga dalam membentuk manusia.

Suasana penuh kasih sayang, sikap mau menerima anak sebagaimana adanya, menghargai potensi anak baik secara kognitif, afektif maupun psikomotorik, merupakan sejumlah hal yang seharusnya hadir dalam sebuah gambaran keluarga yang ideal.

Guna menumbuhkan hal-hal di atas, dibutuhkan orang tua dan anggota keluarga yang cerdas. Salah satu aspek kecerdasan yang perlu dihadirkan dalam keluarga adalah kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional tersebut yang kemudian ditularkan kepada anak.

Dalam paparannya, Seto Mulyadi atau yang akrab dikenal dengan panggilan Kak Seto mengatakan terdapat lima wilayah kecerdasan emosional. Lima hal itu adalah kemampuan mengendalikan emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri, mengenali emosi orang lain dan membina hubungan.

Menurut Robert Charles dalam bukunya "The Moral Intelligence of Children", kecerdasan emosional memegang peranan penting bagi kesuksesan seseorang, selain IQ. Kecerdasan emosional pula yang kemudian menggiring manusia untuk mampu hidup toleran dalam komunitasnya.

Berkaitan dengan itu, Imam B Prasodjo berpendapat keluarga yang mampu membangun manusia yang cerdas pastilah terdiri dari figur orang tua dan anggota keluarga yang berinteraksi secara cerdas pula. Kecerdasan tersebut, menurut Imam, bukan sesempit cerdas dalam artian tingginya IQ seseorang atau keseluruhan anggota keluarga. "Keluarga cerdas adalah keluarga yang inovatif dalam mengembangkan art of loving atau seni mencintai. Seni mencintai itu tercermin dalam menjalin hubungan dengan seluruh anggota keluarga," kata Imam.

Ia mengatakan penting bagi anak untuk tumbuh dalam suasana di mana rasa cinta kasih hadir menyelimuti. Menurut Imam, rasa semacam itu menjadikan seorang manusia peka terhadap lingkungan sekitarnya.

Ia juga mendefinisikan keluarga cerdas sebagai keluarga yang mampu memperkuat landasan kehidupan berumah tangga, dengan nilai-nilai agama. Nilai agama, menurut Imam, jika diberikan dengan tepat, akan menjadi benteng tinggi bagi anak terhadap perilaku buruk. * Namun Imam pun menyadari bahwa walau bagaimanapun keutuhan rumah tangga berdiri di atas landasan ekonomi yang kokoh. Ia mengatakan, tanpa kestabilan ekonomi mustahil mewujudkan keluarga yang cerdas.

Berdasarkan hasil pendataan keluarga tahun 2002, dari sebanyak 49,6 juta keluarga di Indonesia, sebanyak 31,0% di antaranya tergolong ke dalam kelompok keluarga prasejahtera (KPS) alasan ekonomi dan Keluarga Sejahtera I (KS I) alasan ekonomi.

Artinya, untuk mewujudkan keluarga cerdas dengan landasan ekonomi yang kuat, Indonesia harus terlebih dahulu mengentaskan kemiskinan pada 15,376 juta keluarga. "Setelah kemiskinan tersebut teratasi, baru kemudian bisa dibangun aspek psikososialnya," ujar Imam.

Semrawutnya kondisi kemasyarakatan Indonesia saat ini, menurut kesimpulan Imam, Seto dan Neni adalah salah satunya berakar pada pendidikan di tingkat keluarga, yang masih kurang mumpuni.

Pengentasan kemiskinan: Kalau bisa berandai-andai, maka untuk perbaikan kualitas bangsa secara paripurna, maka struktur dan paradigma berpikir keluarga Indonesia umumnya sangat perlu untuk dirombak. Neni mengatakan wanita Indonesia sebetulnya perlu mengubah cara pandang mereka terhadap profesi ibu rumah tangga.

Menurutnya, keluarga sebagai sebuah organisasi nirlaba, akan dapat dikendalikan dengan baik jika dipimpin oleh seorang manager domestic

yang bekerja penuh waktu.

Selain itu, menurut Neni, upaya pemerintah untuk memberdayakan ekonomi keluarga, sebaiknya tidak diarahkan pada terbentuknya wanita-wanita karier. Karena, wanita-wanita karier menghabiskan sebagian besar waktunya di luar rumah, sehingga anak terabaikan.

"Orang tua hendaknya tidak egois pada keinginan pribadi berkarier di luar rumah, dengan menjadikan pemenuhan kebutuhan anak sebagai alasan. Perlu disadari benar bahwa peran orang tua mendampingi anak di usia dini sangat besar artinya di kemudian hari," kata Neni.

Sementara itu, Seto mengatakan dibutuhkan suatu kesungguhan dari para orang tua untuk secara tekun dan rendah hati, melakukan yang terbaik bagi putra-putrinya. Menurutnya, seoptimal mungkin suasana yang kondusif dibangun di sela-sela kesibukan orang tua.

Secara makro, para pembicara berpendapat, keluarga cerdas hanya akan terbentuk kalau angka kemiskinan dapat ditekan sedemikian kecil, bahkan kalau bisa dihilangkan. Pengentasan kemiskinan jelas berkaitan dengan meningkatkan sumber produksi dan menambal kebocoran, baik karena inefisiensi maupun korupsi.

Tak ada waktu yang lebih tepat bagi Indonesia untuk melakukan perbaikan total selain dimulai saat ini juga. Dan untuk itu, perbaikan harus berawal dari revitalisasi komunitas inti, di mana semua pembentukan perilaku manusia dimulai, yaitu keluarga. (miol--baroto)

kembali

 
Yayasan Nurani Dunia
Jl. Proklamasi No. 37, Jakarta Pusat 10320, Indonesia | Tel. (+6221) 391-3768 / Fax. (+6221) 3910-579

© Nurani Dunia 2010 | didukung oleh Telkom & Plasa.com | desain by D3D1