PERCAYAKAH Anda bahwa perilaku Anda sekarang ini adalah manifestasi apa yang
dilakukan kedua orang tua, dan sanak keluarga Anda ketika masih kanak-kanak?
Selama masa keemasan yaitu pada usia 0 hingga lima tahun, anak ibarat
tempayan kosong dan siap menampung dan menerima segala hal yang dimasukkan dan
diberikan ke dalamnya. Baik atau buruk muatan itu, diterima begitu saja tanpa
melalui proses seleksi. Proses ini berlangsung hingga masa keemasan itu berakhir
nantinya.
Di masa-masa setelah itu, ketika semua muatan telah terjejali, anak telah
menjelma sebagai 'makhluk isian', sebagai wujud apa yang didapatnya selama masa
keemasan. Kalau ia dibesarkan dengan perlakuan kasar, kata-kata kotor, makian
dan hinaan, maka besar kemungkinan, ia akan menjelma menjadi manusia yang kasar
dan penuh dengan perilaku yang negatif.
Namun kalau ia dibesarkan dengan rasa kasih sayang, nilai-nilai agama,
pengetahuan yang positif, dan rasa aman, maka besar kemungkinan pula, ia akan
tumbuh menjadi manusia penyayang, humanis, dan dipenuhi sikap diri yang positif.
Keluarga, tempat awalnya seorang anak mendapatkan semua pengalamannya sebagai
manusia, bertanggung jawab penuh terhadap arah kepribadian anak. Kesalahan
mendidik yang dilakukan keluarga pada masa keemasan anak, sama artinya dengan
menjerumuskan si anak ke dalam perilaku buruk seumur hidup.
Hal ini terungkap dalam diskusi interaktif Afternon Tea di Kantor Media
Indonesia dengan tema Smart Family, Smart Nation, dalam rangka Hari Keluarga
Nasional (Harganas) XI, beberapa waktu yang lalu.
Dalam kesempatan itu, pembicara yang menegaskan profesinya sebagai ibu rumah
tangga (domestic manager), Neni Utami Adiningsih, menceritakan kisah Victor si
anak serigala, yang diambilnya dari buku The Wild Boy of Aveyron, karya Jean
Mare Gaspard Itard.
Diceritakan, Victor merupakan anak terbuang yang dibesarkan oleh segerombol
serigala, di sebuah hutan. Victor yang masa keemasannya dihabiskan dengan
pendidikan ala serigala tumbuh menjadi anak manusia berkelakuan serigala. Ia
pandai mengaum bagai seekor serigala, dan bertindak tanduk persis seperti
keluarga angkatnya itu.
Upaya sejumlah tokoh dalam cerita itu untuk mengembalikan Victor kepada
kodrat kemanusiaannya menemui jalan buntu, karena Victor telah menjelma bagai
seekor serigala. Betapa mengerikannya fakta bahwa masa lima tahun awal
pembentukan manusia, memegang peranan dalam memberi gambaran manusia tersebut di
sepanjang hidupnya.
Hasil pembelajaran: Dalam diskusi itu, Neni yang penulis dan pemerhati
masalah keluarga ini, mengatakan bahwa apa yang dilakukan anak merupakan hasil
pembelajarannya atas stimuli dari lingkungan.
Artinya, bila sepasang suami istri ingin mendapatkan anak yang cerdas, baik
dari segi intelektual, moral, emosional dan spiritual, maka mereka harus
menempatkan anak dalam keluarga yang cerdas pula.
"Sayangnya saat ini, entah sadar atau tidak, kita semakin tidak peduli akan
eksistensi keluarga sebagai lingkungan awal proses 'pemanusiaan'. Yang lebih
celakanya lagi, hal ini menjauhkan anak dari upaya menjadikannya 'manusia' yang
seorang humanis," kata Neni.
Neni menyatakan keprihatinannya terhadap banyaknya suami-istri yang justru
mereduksi fungsi keluarga yang idealnya merupakan sebuah lembaga pendidikan,
menjadi sekadar hotel. Keluarga hanya tempat untuk menginap saja.
Ia pun mengkritisi sejumlah fakta bahwa istilah dan program kerja pemerintah,
justru merendahkan pekerjaan ibu rumah tangga yang dipandangnya teramat penting
dalam membangun generasi baru. Sebutan 'tidak bekerja' bagi ibu rumah tangga,
seperti dalam kartu tanda penduduk, dinilai Neni mengecilkan peran ibu yang
sebetulnya memegang peranan penting dalam kemajuan bangsa.
Kecerdasan emosional: Pada diskusi "Smart Family, Smart Nation" itu, para
pembicara yang hadir, antara lain sosiolog Imam B Parasodjo, Ketua Komnas
Perlindungan Anak Seto Mulyadi, dan pemerhati masalah keluarga dan anak Neni
Utami Adiningsih. Secara implisit, para pembicara setuju bahwa kemajuan bangsa
sangat ditentukan oleh peran keluarga dalam membentuk manusia.
Suasana penuh kasih sayang, sikap mau menerima anak sebagaimana adanya,
menghargai potensi anak baik secara kognitif, afektif maupun psikomotorik,
merupakan sejumlah hal yang seharusnya hadir dalam sebuah gambaran keluarga yang
ideal.
Guna menumbuhkan hal-hal di atas, dibutuhkan orang tua dan anggota keluarga
yang cerdas. Salah satu aspek kecerdasan yang perlu dihadirkan dalam keluarga
adalah kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional tersebut yang kemudian
ditularkan kepada anak.
Dalam paparannya, Seto Mulyadi atau yang akrab dikenal dengan panggilan Kak
Seto mengatakan terdapat lima wilayah kecerdasan emosional. Lima hal itu adalah
kemampuan mengendalikan emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri, mengenali
emosi orang lain dan membina hubungan.
Menurut Robert Charles dalam bukunya "The Moral Intelligence of Children",
kecerdasan emosional memegang peranan penting bagi kesuksesan seseorang, selain
IQ. Kecerdasan emosional pula yang kemudian menggiring manusia untuk mampu hidup
toleran dalam komunitasnya.
Berkaitan dengan itu, Imam B Prasodjo berpendapat keluarga yang mampu
membangun manusia yang cerdas pastilah terdiri dari figur orang tua dan anggota
keluarga yang berinteraksi secara cerdas pula. Kecerdasan tersebut, menurut
Imam, bukan sesempit cerdas dalam artian tingginya IQ seseorang atau keseluruhan
anggota keluarga. "Keluarga cerdas adalah keluarga yang inovatif dalam
mengembangkan art of loving atau seni mencintai. Seni mencintai itu tercermin
dalam menjalin hubungan dengan seluruh anggota keluarga," kata Imam.
Ia mengatakan penting bagi anak untuk tumbuh dalam suasana di mana rasa cinta
kasih hadir menyelimuti. Menurut Imam, rasa semacam itu menjadikan seorang
manusia peka terhadap lingkungan sekitarnya.
Ia juga mendefinisikan keluarga cerdas sebagai keluarga yang mampu memperkuat
landasan kehidupan berumah tangga, dengan nilai-nilai agama. Nilai agama,
menurut Imam, jika diberikan dengan tepat, akan menjadi benteng tinggi bagi anak
terhadap perilaku buruk. * Namun Imam pun menyadari bahwa walau bagaimanapun
keutuhan rumah tangga berdiri di atas landasan ekonomi yang kokoh. Ia
mengatakan, tanpa kestabilan ekonomi mustahil mewujudkan keluarga yang cerdas.
Berdasarkan hasil pendataan keluarga tahun 2002, dari sebanyak 49,6 juta
keluarga di Indonesia, sebanyak 31,0% di antaranya tergolong ke dalam kelompok
keluarga prasejahtera (KPS) alasan ekonomi dan Keluarga Sejahtera I (KS I)
alasan ekonomi.
Artinya, untuk mewujudkan keluarga cerdas dengan landasan ekonomi yang kuat,
Indonesia harus terlebih dahulu mengentaskan kemiskinan pada 15,376 juta
keluarga. "Setelah kemiskinan tersebut teratasi, baru kemudian bisa dibangun
aspek psikososialnya," ujar Imam.
Semrawutnya kondisi kemasyarakatan Indonesia saat ini, menurut kesimpulan
Imam, Seto dan Neni adalah salah satunya berakar pada pendidikan di tingkat
keluarga, yang masih kurang mumpuni.
Pengentasan kemiskinan: Kalau bisa berandai-andai, maka untuk perbaikan
kualitas bangsa secara paripurna, maka struktur dan paradigma berpikir keluarga
Indonesia umumnya sangat perlu untuk dirombak. Neni mengatakan wanita Indonesia
sebetulnya perlu mengubah cara pandang mereka terhadap profesi ibu rumah tangga.
Menurutnya, keluarga sebagai sebuah organisasi nirlaba, akan dapat
dikendalikan dengan baik jika dipimpin oleh seorang manager domestic
yang bekerja penuh waktu.
Selain itu, menurut Neni, upaya pemerintah untuk memberdayakan ekonomi
keluarga, sebaiknya tidak diarahkan pada terbentuknya wanita-wanita karier.
Karena, wanita-wanita karier menghabiskan sebagian besar waktunya di luar rumah,
sehingga anak terabaikan.
"Orang tua hendaknya tidak egois pada keinginan pribadi berkarier di luar
rumah, dengan menjadikan pemenuhan kebutuhan anak sebagai alasan. Perlu disadari
benar bahwa peran orang tua mendampingi anak di usia dini sangat besar artinya
di kemudian hari," kata Neni.
Sementara itu, Seto mengatakan dibutuhkan suatu kesungguhan dari para orang
tua untuk secara tekun dan rendah hati, melakukan yang terbaik bagi
putra-putrinya. Menurutnya, seoptimal mungkin suasana yang kondusif dibangun di
sela-sela kesibukan orang tua.
Secara makro, para pembicara berpendapat, keluarga cerdas hanya akan
terbentuk kalau angka kemiskinan dapat ditekan sedemikian kecil, bahkan kalau
bisa dihilangkan. Pengentasan kemiskinan jelas berkaitan dengan meningkatkan
sumber produksi dan menambal kebocoran, baik karena inefisiensi maupun korupsi.
Tak ada waktu yang lebih tepat bagi Indonesia untuk melakukan perbaikan total
selain dimulai saat ini juga. Dan untuk itu, perbaikan harus berawal dari
revitalisasi komunitas inti, di mana semua pembentukan perilaku manusia dimulai,
yaitu keluarga. (miol--baroto)