HAMPIR setiap minggu selama dua bulan belakangan ini, Posko Indonesia Peduli
di Bantul, Yogyakarta, selalu kedatangan relawan. Dengan mengendarai truk bak
terbuka, ratusan warga dari berbagai kabupaten sekitar Yogyakarta berdatangan.
Mereka hadir tanpa bendera, tanpa spanduk. Atas inisiatif sendiri, mereka
singgah di pos komando untuk berkoordinasi, meminta informasi lokasi korban
gempa yang membutuhkan bantuan. Dengan bekal peralatan sederhana cangkul dan
linggis-para relawan ini siap ikhlas membantu membersihkan puing-puing bangunan
akibat gempa. Mereka tak merepotkan. Tiap relawan telah membekali diri dengan
sebungkus makanan untuk seharian bekerja. Warga Bantul menyambut hangat, penuh
keharuan. Charma, relawan asal Banjarnegara, mengatakan bahwa rumahnya di
kampung juga sudah lapuk dimakan usia. Tapi ia merasa masih lebih beruntung
dibandingkan dengan anak-anak dan orang tua korban gempa yang kini harus tinggal
di tenda darurat dalam keadaan luka, trauma, dan duka. Charma, pedagang kecil
itu, seharusnya membuat kita sadar: agar tidak hanya pandai "melihat ke
atas," namun juga "ke bawah".
***
Tatkala melihat semua ini, kita pun terbayang impian para pendiri Republik,
saat awal sekali negeri ini dibangun. Bung Karno saat itu sering berbicara soal
rasa kebangsaan dengan membangkitkan sentimen nasionalisme kemanusiaan.
Nasionalisme yang digerakkan melalui itikad dan keinsafan rakyat, bahwa rakyat
itu adalah satu golongan, satu nasib, satu bangsa. Para pemimpin memiliki
kesadaran penuh bahwa keberadaan suatu bangsa akan terjadi bila ia memiliki satu
nyawa, satu asas-akal, satu roh bersama yang tumbuh dalam jiwa untuk hidup
menjadi satu, saling membantu, saling menolong. Karena itu, para pendiri negeri
ini berbicara tentang pentingnya nation building. Sebuah proyek besar yang harus
dilakukan bersama secara terus-menerus, tanpa henti.
Tatkala Bung Karno berpidato bergelora memberi aba-aba kepada rakyat
"holopis kuntul baris", di hadapannya telah berjejer barisan rakyat
yang siap bergerak bahu-membahu, bergotong-royong membangun kampung mereka.
Itulah modal sosial Indonesia. Modal sosial yang dalam wujud nyata saat ini
ditunjukkan para relawan yang tanpa pamrih membantu para korban bencana. Para
pemimpin saat itu menangkap semangat rakyat. Kemudian mereka pun mendorong
semangat itu, dan memberi ruang untuk berkembang, demi meraih "the
Indonesian Dream"- angan-angan tentang "kampung halaman
Indonesia" yang damai, bebas dari merebaknya penyakit, dan cukup
sandang-pangan, walaupun tak harus berlimpah dengan kemewahan.
Mereka hanya menginginkan agar di kampungnya tersedia sekolah yang layak
untuk anak-anak mereka. Sekolah yang tidak harus gratis, tapi tersedia guru yang
berdedikasi dan mengajar dengan tenang di gedung yang kukuh, tidak reot, tidak
bocor. Mereka berharap agar sungai-sungai yang melewati kampung mereka mengalir
lancar, jernih tak tercemar. Hutan-hutan di sekeliling mereka hijau terpelihara,
tidak digunduli, tidak dibakari. Mereka sekadar mengidamkan kehidupan yang tak
rumit-rumit. Tidak ada intrik politik, tidak ada gontok-gontokan.
***
Apa yang terjadi setelah 61 tahun Indonesia merdeka? Ternyata situasi yang
berkembang di Indonesia banyak dirasakan semakin jauh dari impian. Ratusan
kelompok etnis yang menjadi komponen rakyat Indonesia, yang semula diyakini
dapat ditransformasikan menjadi kesatuan warga negara multikultural
(multicultural citizenship), ternyata banyak yang menjelma menjadi
kelompok-kelompok segmental kesukuan dan kedaerahan. Nasionalisme etnis merebak
di mana-mana, sementara nasionalisme kewargaan (civic nationalism), yang
didasarkan pada cita-cita luhur kebangsaan, semakin terabaikan. Demokrasi
Indonesia semakin terancam oleh kuatnya politik identitas yang mengedepankan
loyalitas asal-usul, daripada loyalitas pada gagasan luhur universal. Kini,
peradaban Indonesia terkontaminasi oleh semangat primitif akibat tumbuhnya
neo-tribalisme baru, yakni semangat kelompok yang mau menang sendiri. Bukankah
kini kita melihat bahwa partai-partai politik, yang seharusnya menjadi bagian
organisasi modern, penyerap dan penyalur aspirasi rakyat dalam mekanisme
demokrasi, tak lebih hanya sebagai wadah "kepala-kepala suku primitif
baru" yang lebih banyak ribut karena berebut kekuasaari? Eksperimen
mewujudkan Indonesia yang modern dan beradab kini benar-benar terancam.
Siapa yang berani mengatakan bahwa the Indonesian Dream di bidang
sosial-ekonomi telah dapat kita capai? Setelah 61 tahun merdeka, Indonesia terus
menghadapi tingginya angka pengangguran. Jumlah angkatan kerja Indonesia yang
terus membengkak ternyata tidak diikuti dengan peningkatan kualitas pendidikan
dan keterampilan. Tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri, yang mayoritas
pembantu rumah tangga, menjadi cermin bobroknya sumber daya manusia Indonesia.
Akibatnya, dalam sekejap Indonesia dikenal sebagai "bangsa pembantu rumah
tangga", atau "bangsa kuli". Ini semua terjadi akibat perpaduan
gagalnya bangsa ini mendorong terciptanya lapangan kerja baru bagi rakyat banyak
dan gagalnya memajukan pendidikan.
Di saat terjadinya keterpurukan sumber daya manusia, sumber daya alam yang
selama ini dibanggakan ternyata juga disia-siakan. Pohon-pohon yang tumbuh di
hutan jutaan hektare luasnya dibiarkan ditebangi secara membabi buta, dan bahkan
banyak yang dijual murah dalam bentuk kayu-kayu gelondongan, tanpa pengolahan,
tanpa nilai tambah (added value).
Hingga kini, kita seperti tak juga mengambil pelajaran dari negara-negara
tetangga kita-Thailand, Malaysia, Singapura, dan bahkan kini Vietnam. Mereka
terlihat lebih kreatif dalam meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Pembangunan
ekonomi mereka tampak terfokus pada upaya proses produksi barang agar memiliki
nilai tambah. Bahkan kini, mereka pun melangkah lebih jauh, mulai mengamankan
pasar, menjamin agar produk-produk mereka terjual di pasar internasional. Di
supermarket Indonesia, kita pun menyaksikan buah-buah kaleng dengan kemasan
menarik dari Thailand dan Malaysia. Elektronik Malaysia, Taiwan, dan Singapura
juga mulai mendominasi di tiap toko. Sementara itu, Indonesia, sebuah negeri
dengan 200 juta penduduk, semakin nyata berperan sekadar menjadi pasar besar,
yang penduduknya terus dibina sekadar menjadi konsumen yang konsumeristis,
menjadi target iklan dan multi-level marketing. Rakyatnya terus-menerus
dipelihara agar mandul, tak produktif, tak kreatif, tak inovatif. Semua ini
sinkron dengan kenyataan bahwa sumber daya manusia Indonesia semakin hari
semakin terpuruk, akibat fasilitas pendidikan yang ambruk dan sistem
pengelolaan yang korup. Pendeknya, Indonesia kini benar-benar mengalami krisis
multidimensional- krisis keteladanan, krisis gagasan, dan krisis efektivitas
birokrasi di semua lini. Defisit modal sosial terjadi, menghancurkan kemandirian
dan keyakinan dalam melangsungkan kehidupan berbangsa. Sungguh mahal harga yang
harus dibayar manakala sebuah bangsa mengalami "kedunguan kolektif".
***
Lalu, bagaimana kita harus memulai perbaikan? Bagaimana kita harus
menghidupkan the Indonesian Dream yang telah lama terkubur? Mengurai benang
kusut memang tidak mudah. Tapi, mungkin kita harus melangkah dari hal-hal mudah
dan sederhana. Dengan belajar ilmu hikmah dari orang-orang biasa seperti Charma
dari Banjarnegara, modal sosial bisa ditumbuhkan. Mereka telah memberi contoh,
betapa di tengah kemiskinan yang mereka derita, mereka masih sanggup bergerak
menghimpun teman-teman warga desanya untuk melakukan aksi kemanusiaan,
memberikan pertolongan kepada sesama tanpa pamrih. Inilah bentuk kepemimpinan
yang sebenarnya. Dengan meniru gerak orang-orang sederhana ini, kita
berkeyakinan, kita dapat melangkah kembali, membangun modal sosial yang kini
tengah mengalami defisit terus-menerus.
Bencana yang beruntun terjadi, sejak gempa di Nabire, tsunami di Aceh dan
Sumatera Utara, gempa di Yogya dan Jawa Tengah dan musibah lumpur Sidoarjo,
haruslah menjadi ruang untuk membangkitkan kembali solidaritas emosional
kebangsaan. The art of loving harus dikembangkan untuk menumbuhkan rasa
"ke-kita-an" dan "kebersamaan" sebagai satu keluarga, satu
bangsa. Narnun, pada saat yang sama, perubahan struktural (perubahan sistem)
tetap harus dilakukan. Selama ini, kita telah cukup mendapatkan pelajaran betapa
sistem birokrasi yang berbelit dan korup telah menjebak kita ke dalam
"kedunguan kolektif".
Upaya perbaikan yang serius dalam penanganan bencana memiliki posisi
strategis karena dapat menjadi pintu masuk bagi pemerintah untuk membuktikan
keseriusan menolong rakyat di lapisan bawah yang kini sangat menderita. Untuk
itu, diperlukan ketegasan untuk keluar dari cara-cara birokratis, yang
sebenarnya kini telah secara terang-benderang membuktikan ketidak-efektifan dan
kekacauan. Ibarat memotong kayu, sudah sewajarn,ya kita gunakan gergaji tajam,
bukan martil atau palu yang tumpul, betapapun palu itu kita pukulkan sekuat
tenaga. Karena itu, perangkat kerja penanggulangan bencana sebagaimana diatur
dalam Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2005 perlu revisi total. Sistem yang
tidak tepat tidak saja akan menyebabkan pemborosan uang negara, tapi juga akan
membawa masalah baru, konflik baru, korban-korban baru, yang akhirnya akan ikut
menyumbang pada runtuhnya kepercayaan rakyat kepada pemerintah.
Kini, terserah bagaimana kita menentukan pilihan-melakukan perubahan, atau
tetap bergeming berkubang pada lumpur kedunguan. Namun, apa pun yang terjadi,
kita masih berkeyakinan, ribuan dan bahkan jutaan rakyat seperti Charma masih
tetap loyal, menjaga keutuhan Indonesia sebagai satu bangsa, satu impian menuju
kehidupan lebih baik. Hanya, bila "kedunguan kolektif" tetap
dipertahankan, sampai kapan kesabaran orang-orang sederhana ini akan bertahan ?
Imam B. Prasodjo (Direktur Yayasan Nurani Dunia)