Seperti yang sudah-sudah, pada suatu siang, Jumat (28/7) di sebuah hotel di
Jakarta, RMH Heroe Syswanto NS Soerio Soebagio, yang lebih akrab dipanggil Sys
NS, kembali tampil harum dan jelita oleh kepungan gadis belia. Ia lebih suka
tetap tampil bergaya selebriti meski sedang berada di sebuah hajatan politik.
Dalam acara itu, ia memperkenalkan embrio partai politik yang ia pelopori
bersama 186 pendiri lainnya, Partai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Beberapa artis hadir. Juga sejumlah politisi dari Partai Demokrat, Partai
Golongan Karya, dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.
Setelah melayani sejumlah wawancara, dia memimpin sendiri diskusi sekitar
komentar, kritik, dan harapan pakar dan pengamat politik serta publik mengenai
NKRI dan Sys NS.
Pengamat politik Sukardi Rinakit yang hadir sebagai salah satu pembicara
mengingatkan Sys dan partainya agar menggunakan simbol atau bahasa lokal kalau
ingin partainya cepat dikenal dan diterima masyarakat.
Menurut Sukardi, konsumen politik sudah terbagi-bagi seperti halnya konsumen
di pasar bebas. Mustahil parpol mengharapkan bisa merebut suara dari seluruh
konsumen.
Pembicara lain, Wakil Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia Mohammad
Qodari mengatakan, NKRI punya golongan konsumen politik yang jelas, kaum muda.
"Bila dasarnya adalah kebutuhan konsumen, NKRI harus memusatkan perhatian
pada masalah pendidikan dan hiburan, karena hanya itulah kebutuhan orang muda
yang menjadi pilihan golongan konsumen politiknya NKRI," tutur Qodari. Sys
sependapat.
Partai Perserikatan Rakyat (PPR) yang dipelopori tokoh akar rumput dari
Bengkulu, Muspani, dan Partai Persatuan Pembebasan Nasional (Papernas) yang
sedang dibentuk sejumlah aktivis muda, seperti Dita Indah Sari, memilih golongan
konsumen berbeda. PPR memilih mengutamakan konstituen pedesaan dan pedalaman,
terutama petani, sedangkan target konstituen Papernas adalah buruh, petani, dan
mahasiswa.
Meski ketiganya tergolong parpol nasionalis, namun PPR dan Papernas lebih
memilih target konstituen dari golongan ekonomi menengah ke bawah, sedangkan
NKRI memilih membidik konstituen dari golongan ekonomi menengah kota.
"Dugem" dan lumpur
Sys menjelaskan, NKRI memang membidik target pemilih muda yang saat ini
jumlahnya mencapai 20 persen dari jumlah pemilih nasional. Kesulitannya,
kalangan pemilih muda bersikap apolitis. Oleh karena itu, untuk menarik simpati
mereka, butuh kemasan yang sesuai dengan dunia mereka.
Sys kemudian menerjemahkan NKRI sebagai partai funky-nya orang muda. Ia mulai
banyak menyajikan obrolan politik yang terkesan asal nyablak, penuh gurauan khas
orang muda di sela acara yang dikemas untuk konsumsi kaum muda kosmopolit yang
pasti tidak jauh dari dugem (dunia gemerlap).
PPR lain lagi. Parpol yang membangun jaringan dengan organisasi petani dan
lembaga swadaya masyarakat lokal, termasuk lembaga bantuan hukum, ini lebih suka
berkubang lumpur bersama petani dan warga desa memperjuangkan hak ulayat mereka,
antara lain dengan melakukan advokasi dan pengerahan unjuk rasa. Pendekatan
budaya lewat pengembangan acara kesenian tradisional termasuk pentas bela diri
di perguruan lokal pun mereka lakukan.
"Kami mendirikan parpol untuk menghapus cap bahwa kami cuma provokator,
perusuh, tidak peduli negara, menjual harga diri bangsa dan tidak punya
nasionalisme. Padahal kami cuma melakukan pendidikan politik buat petani dan
warga. Kami tidak pernah mengajarkan dan mempraktikkan kekerasan. Kalau jadi
korban kekerasan, sudah sering," kata Muspani tersenyum.
Tak heran apabila parpolnya tidak terlalu peduli dengan pemenangan pemilu
legislatif, pemilihan kepala daerah, maupun pemilihan presiden. "Semuanya
kami serahkan kepada teman-teman di daerah. Mereka mau PPR ikut Pemilu
legislatif 2009. Ya silakan saja. Tapi jangan bermimpi dulu soal kemenangan.
Berusaha dulu saja," kata salah satu anggota Dewan Perwakilan Daerah
Bengkulu yang dihubungi Selasa (1/8).
Berbeda dengan semangat Papernas yang menggebu ingin segera merebut
kemenangan dalam pemilu. Bak tak kenal jera atas kegagalan yang mereka alami
sebelumnya, para pendiri Partai Rakyat Demokratik (PRD/1999) dan Partai
Persatuan Oposisi Rakyat (Popor/2003) ini kembali ke pentas politik dengan
target konstituen yang sama.
Menurut Ketua Umum Komite Persiapan Papernas Dominggus Oktavianus Tobu Kiik,
dua kali kegagalan politik mereka sebelumnya bukan pada kesalahan pilihan target
konstituen, tetapi lebih pada sejumlah kelemahan parpolnya. "Peluang
Papernas saat ini sudah jauh lebih baik. Kami pun sudah lebih banyak belajar
dari kesalahan," ujar Dominggus, Kamis lalu.
Kali ini Papernas mendapat dukungan dan membangun jaringan dengan organisasi
petani, buruh dan mahasiswa, aktivis, serta kaum miskin kota. Sejumlah
organisasi mahasiswa menyatakan ikut mendukung parpol ini. Mereka antara lain
adalah Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi, PRD, Front Nasional Perjuangan
Buruh Indonesia, Serikat Tani Nasional (STN), Serikat Pekerja Otomotif Indonesia
(SPOI), Serikat Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia (SBTPI), serta Gabungan
Serikat Pekerja Papernas.
Dominggus optimistis bahwa posisi partainya dalam Pemilu 2009 bakal lebih
baik dari PRD atau Popor. "Masyarakat butuh harapan baru dari partai baru
seperti tercermin dalam kemenangan Partai Demokrat dan Partai Keadilan
Sejahtera," tuturnya.
Partai ini mengusung slogan, "Bebas dari dominasi asing" dengan Tri
Panji Persatuan Nasional mereka, "Hapus Utang Luar Negeri, Ambil Alih
Industri Tambang, serta Kebangkitan Industrialisasi Nasional".
Salah seorang pendiri Papernas, Iwan, mengakui, Papernas mendapat sebagian
"api" perjuangan itu dari Amerika Latin. Dan itu tidak lepas dari
suara mayoritas organisasi buruh pendukung dan jaringan Papernas.
Kalau dicari-cari apa persamaan di antara ketiga parpol baru itu, ya cuma
satu, sama-sama berani modal dengkul.
Mengherankan
Sosiolog Universitas Indonesia Imam Prasodjo dan pengamat politik Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ikrar Nusa Bhakti menyampaikan keheranannya
atas munculnya tiga parpol baru tadi. Menurut mereka, kondisi saat ini nyaris
menutup peluang parpol mendapat suara, bahkan untuk lolos threshold sekalipun.
"Merebut 10 persen perolehan suara PDI-P atau Golkar saja mereka sudah
hebat," kata Ikrar.
Sepengamatan Imam, belakangan kehidupan parpol yang sudah ada semakin surut
dan mengeras, baik di lingkungan parpol berbendera nasionalis maupun agamis.
"Buat kalangan nasionalis, yang masih populer tinggal PDI-P dan Golkar,
sedangkan bagi kalangan agamis, yang masih dianggap mampu menyuarakan aspirasi
mereka tinggal PKB (Partai Kebangkitan Bangsa), PAN (Partai Amanat Nasional),
dan PKS (Partai Keadilan Sejahtera). (Partai) Demokrat dan PPP (Partai Persatuan
Pembangunan) semakin surut karena tidak mampu mengelola emosi publik dan
melakukan fungsinya sebagai Parpol," ujar Imam.
Parpol nasionalis berbasis pada massa mengambang, sedangkan parpol agamis
berbasis pada organisasi organisasi massa pendukungnya seperti PAN dengan
Muhammadiyah-nya, PKB dan kantong massa di pesantren, serta PKS yang
mengandalkan kelas menengah terpelajarnya.
Untuk merebut suara, parpol ini masih mengandalkan karisma pemimpinnya
meskipun mulai dibarengi dengan kemampuan mereka membangun jaringan.
"Yang relatif stabil bahkan mengalami kemajuan cuma PKS," ujar
Imam. "Meski demikian, parpol ini pun mengalami kemerosotan
performance," lanjutnya.
Ikrar membenarkan. "PKS mulai tidak konsisten dan mulai tampak hanya mau
menjual citra. Lihat sikap politik mereka menghadapi kenaikan harga BBM,"
tegasnya.
Imam berpendapat, parpol baru bisa mengharapkan perolehan suara lebih baik
bila terjadi kekesalan atau kejenuhan publik terhadap parpol lama.
"Kalau keadaannya status quo, paling mereka cuma dapat remah remah suara
dari parpol-parpol besar saja dan itu bisa berarti gagal mendapat kursi di
parlemen, bahkan untuk lolos threshold sekalipun," tuturnya.
Imam tidak yakin parpol baru mampu membangun kekuatan emosional maupun
fungsional, yang menurut Ikrar, bertujuan membangun kepercayaan publik terhadap
parpol bersangkutan.
Kekuatan emosional, tutur Imam, dibangun lewat peristiwa atau figur
pemimpinnya yang karismatik, sedangkan kekuatan fungsional bersandar pada
kinerja kader parpol, terutama dalam membangun jaringan.
"Partai Golkar misalnya. Parpol ini sebenarnya tidak terlalu berhasil
membangun kekuatan emosional, tetapi parpol ini masih unggul dalam membangun
kekuatan fungsionalnya," ujar Imam.
Ia berpendapat, usaha membangun kesadaran kelas di lingkungan masyarakat
miskin belum tentu menjadi perekat kaum miskin. "Beda dengan Karl Marx. Ia
dengan cerdas membangun hubungan yang kontras antara buruh dan kapitalis. Kalau
sekarang, hanya sebatas istilah Marhaenis saja. Terlalu datar," ucap Imam.
Menurut dia, yang bisa dilakukan parpol-parpol baru agar berhasil cuma
membangun jaringan karena mereka tidak cukup memiliki tokoh nasional yang
karismatik.
Imam memperkirakan sampai 10 tahun ke depan parpol baru ini cuma bisa
mencapai target sebagai "pedagang perahu" (istilah lain untuk
kendaraan politik) bagi pasangan calon yang ikut pilkada, penjaja jasa suara
bagi parpol-parpol besar, atau rekanan koalisi parpol.
Ikrar tak sependapat. "Jangan lupa, kemenangan pasangan calon dalam
pilkada atau pilpres itu tidak ditentukan oleh kendaraan politik atau 'perahu'
yang mereka gunakan, tetapi lebih pada kesuksesan tim sukses nonpartai para
calon dalam mencitrakan diri mereka. Yang dijual itu sosok pemimpin yang
kemudian dibantu pencitraannya oleh tim sukses mereka," ungkap Ikrar.
Jadi, lanjut peneliti politik dari LIPI tersebut, prosesnya berlangsung sama
persis seperti ketika produsen menawarkan barang dagangannya. Dalam pemilihan
presiden dan pilkada, uang memang belum menjadi penentu bagi parpol. Berbeda
dengan pemilu legislatif.
"Meski demikian, parpol membutuhkan uang untuk memelihara 'perahu'-nya
agar layak pakai," ujar Ikrar.
WINDORO ADI