Radio Nederland Siaran Indonesia, Ranesi, dalam penyiarannya melakukan
kerjasama dengan sejumlah radio lokal di Indonesia, termasuk yang berada di
provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Karena stasion radio tersebut hancur oleh
hempasan tsunami 2004, maka Radio Nederland mengirim tiga stasiun pemancar radio
mobil ke Aceh awal tahun lalu. Kamis ini (09/03) ditandatangani kerjasama
pembangunan sebuah menara radio guna penyiaran yang lebih baik dan luas. Berikut
uraian Imam Prasodjo dari Yayasan Nurani Dunia tentang proses rekonstruksi di
Aceh.
Pemulihan secara fisik Imam Prasodjo [IP]: "Proses rekonstruksi di Aceh
itu kan ada tiga tahapan besar. Pertama untuk proses penanganan darurat pada
awal-awal, kemudian diikuti dengan proses rehabilitasi. Rehabilitasi itu
melakukan pemulihan, membuat tenda-tenda darurat, sekolah darurat. Pada saat
sekarang sudah memasuki tahap rekonstruksi, artinya semua infra struktur yang
harus dibangun, pembangunannya itu menuju arah pembangunan yang lebih permanen.
Masyarakat juga berusaha recover dengan mengacu kepada upaya-upaya pemberdayaan
yang sifatnya permanen, tidak lagi temporer."
"Jadi tahapan yang sekarang sudah dimulai. Jadi banyak rumah-rumah yang
sifatnya permanen, sekolah-sekolah yang sifatnya permanen, fasilitas-falisitas
publik mulai dari toko, semua pemberdayaan ekonomi yang tujuannya adalah
memberdayakan masyarakat secara lebih permanen. Bukan lagi temporer gitu. Tetapi
kendala-kendala yang terjadi, memang kita berbicara sebuah bencana yang
melumatkan 1400 desa, yang membunuh sekitar 200 ribu orang dan menghancurkan
lebih dari 2000 sekolah. Belum lagi tentang begitu banyak keluarga yang
ditinggalkan, banyak anak yatim yang saya tidak tahu berapa jumlahnya secara
fisik. Tentu ini bukan hal yang bisa dilakukan secara cepat."
Pemulihan kepercayaan "Aceh ini kan juga bukan daerah yang dulunya
normal. Ini kita sekaligus juga sedang melakukan rekonsiliasi dengan gerakan
yang semula menamakan dirinya Gerakan Aceh Merdeka. Setelah ditandatanganinya
perjanjian Helsinki, ini sebuah titik awal, bagaimana membangun trust. Ini tidak
mudah. Jadi satu sisi bagaimana melakukan recovery tepi di sisi lain juga
recovery bukan hanya karena bencana, tetapi recovery rebuilding trust. Dan
jangan lupa di sini masih juga daerah gempa. Jadi sewaktu-waktu bisa datang lagi
itu."
Ada jadwal waktunya Radio Nederland [RN]: "Kami dengar isyu-isyu bahwa
di dalam melakukan rekonstruksi itu, warga setempat, rakyat Aceh kurang sekali
dilibatkan dalam masalah itu. Apakah benar demikian?"
IP: "Yang saya pahami di lapangan begini, Pak. Jadi Lembaga Donor tentu
seringkali menunjuk kerjasama dengan lembaga-lembaga pemerintah maupun NGO ya,
Non Government Organisation atau Lembaga Swasembada Masyarakat. Dan seringkali
dalam proses kerjasama itu ada semua MoU yang dirancang untuk waktu tertentu.
Ada sebuah time table. Seringkali ada banyak orang yang membangun itu berpikir,
bagaimana cepat supaya bisa menyelesaikan pembangunan ini sesuai dengan MoU yang
ditandatangani. Dan seringkali ada dua pendapat; apakah kita harus melibatkan
warga Aceh? Tentu tidak semuanya tersedia tenaga kerjanya, tetapi pada saat yang
sama juga ada kewajiban-kewajiban dari lembaga-lembaga yang menjadi implementor
terhadap dana itu supaya tepat waktu. Sehingga tidak menyalahi
perjanjian-perjanjian itu."
Membentuk yayasan RN: "Di dalam proses rekonstruksi itu, peranan Yayasan
Nurani Dunia yang anda pimpin itu bagaimana, Pak?"
IP: "Kami berusaha untuk menyalurkan amanah yang diberikan oleh banyak
pihak, juga ada Radio Belanda, Radio Nederland yang meminta kita memfasilitasi
teman-teman dari NGO lokal, para korban tsunami yang dulu pernah menjadi
penyiar, yang punya radio untuk dibantu kembali. Nurani Dunia membentuk
masyarakat lokal untuk mengorganisir diri menjadi yayasan-yayasan. Dan yayasan
inilah yang bersama Nurani Dunia membangun apa yang selama ini diminta oleh para
donor, untuk direalisasikan, membantu masyarakat di Aceh. Jadi pendekatan kita
seperti itu.
Demikian uraian Imam Prasodjo.