Friday, September 10, 2010 - this site has been visited by visitors | admin | indonesia 

people to people aid


dari kita untuk sesama

calendar of events
September 2010
S M T W T F S
1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930

 

:.•Nurani Dunia and the Press

Serambi Indonesia, April 20, 2006

PLTMH Pertama Dibangun di Aceh Besar-Dua Desa Dapat Pasokan Listrik

ACEH BESAR - Pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) atau pembangkit listrik tenaga air pertama di Aceh, berkapasitas 40.000 watt telah dibangun di kawasan Aceh Besar. Dua Desa yang dihuni 187 kepala keluarga (KK) kembali menikmati aliran listrik yang sebelumnya sempat terhenti.

Proyek ini yang dibiayai Coca Cola Indonesia bekerja sama dengan Yayasan Ibeka dan Nurani Dunia telah mulai beroperasi sejak sepekan lalu dan telah diresmikan oleh Titie Sudarini, Direktur Coca Cola di Lhoong, Aceh Besar, Rabu (19/4). Kedua desa yang kembali mendapat pasokan listrik itu adalah Desa Teunong Krueng Kala dan Baroh Krueng Kala, Kecamatan Lhoong.

Arif Mujahidin, Humas Manager Coca Cola Indonesia mengklaim sebagai pembangkit listrik tenaga air pertama di Provinsi NAD dengan sumber tenaga dari aliran air. Dia meminta partisipasi aktif dari masyarakat untuk menjaga lingkungan, terutama hutan agar sumber air tetap terjaga dengan baik.

Arif mengatakan jumlah daya terpakai sekitar 20.000 watt untuk di dua desa tersebut, sehingga masih tersisa 20.000 watt lagi. Untuk operasional sehari-hari, diserahkan kepada koperasi Tuah krueng Kala Sejahtera yang dibentuk berdasarkan kesepakatan masyarakat.

"Koperasi inilah, yang bertanggung jawab terhadap penyuplaian arus listrik dan iuran, tentunya setelah dilakukan musyawarah," kata Arif. Sedangkan Yayasan Nurani Dunia akan memainkan peran untuk memberdayakan masyarakat. Perihal kekurangan daya di musim kemarau, Iskandar dari Yayasan Ibeka yang membangun proyek itu mengatakan telah melakukan survei awal. Dari hasil survey, debit air minimal mampu menghasilkan listrik sebesar 35.0000 sampai 38.000 watt, sehingga tetap mampu memberi pasokan aliran listrik.

Sedangkan Direktur Coca Cola Indonesia mengharapkan masyarakat agar menjaga fasilitas tersebut. Tatie juga menyerahkan secara resmi pengelolaan PLTMH ini kepada Koperasi Tuah Krueng Kala Sejahtera yang diketuai oleh Ramija. Tri Mumpuni dari yayasan Ibeka meminta masyarakat untuk tidak menebang hutan sembarangan. Menurut dia, hutan menjadi sumber air untuk membangkitkan energi listrik. Dikatakannya, untuk satu pohon besar saja, bisa menghasilkan listrik sebesar satu kilo watt per jam.

Selain itu, Ramija, Ketua Koperasi Tuah Krueng Kala mengakui setiap warga dibebankan membayar biaya pemasangan listrik sebesar Rp 100 ribu dan Rp 20 ribu untuk iuran bulanan dan pengembangan koperasi. Sementara itu, Juari salah seorang warga Lhong mengatakan sejak listrik tersebut diaktifkan sepekan lalu, desanya kembali terang, walau penggunaannya masih sangat terbatas pada lampu dan televisi. "Sementara ini, tiap satu rumah hanya diberi jatah 100 watt, sehingga tidak bisa digunakan untuk menyeterika dan memasak," katanya.

Dijelaskannya, sementara ini penggunaan listrik disetiap rumah seragam, yakni setengah amper, dengan iuran Rp 20 ribu per bulan. Iuran tersebut nantinya dapat berubah sesuai dengan penggunaan, tergantung kemampuan warga.(y)

 

kembali

 
Nurani Dunia Foundation
Jl. Proklamasi No. 37, Jakarta Pusat 10320, Indonesia | Tel. (+6221) 391-3768 / Fax. (+6221) 3910-579

© Nurani Dunia 2010 | supported by Telkom & Plasa.com | Rebuild by PT. Onevision