ACEH BESAR - Pembangkit listrik tenaga mikro hidro
(PLTMH) atau pembangkit listrik tenaga air pertama di Aceh, berkapasitas 40.000
watt telah dibangun di kawasan Aceh Besar. Dua Desa yang dihuni 187 kepala
keluarga (KK) kembali menikmati aliran listrik yang sebelumnya sempat terhenti.
Proyek ini yang dibiayai Coca Cola Indonesia bekerja
sama dengan Yayasan Ibeka dan Nurani Dunia telah mulai beroperasi sejak sepekan
lalu dan telah diresmikan oleh Titie Sudarini, Direktur Coca Cola di Lhoong,
Aceh Besar, Rabu (19/4). Kedua desa yang kembali mendapat pasokan listrik itu
adalah Desa Teunong Krueng Kala dan Baroh Krueng Kala, Kecamatan Lhoong.
Arif Mujahidin, Humas Manager Coca Cola Indonesia
mengklaim sebagai pembangkit listrik tenaga air pertama di Provinsi NAD dengan
sumber tenaga dari aliran air. Dia meminta partisipasi aktif dari masyarakat
untuk menjaga lingkungan, terutama hutan agar sumber air tetap terjaga dengan
baik.
Arif mengatakan jumlah daya terpakai sekitar 20.000
watt untuk di dua desa tersebut, sehingga masih tersisa 20.000 watt lagi. Untuk
operasional sehari-hari, diserahkan kepada koperasi Tuah krueng Kala Sejahtera
yang dibentuk berdasarkan kesepakatan masyarakat.
"Koperasi inilah, yang bertanggung jawab
terhadap penyuplaian arus listrik dan iuran, tentunya setelah dilakukan
musyawarah," kata Arif. Sedangkan Yayasan Nurani Dunia akan memainkan peran
untuk memberdayakan masyarakat. Perihal kekurangan daya di musim kemarau,
Iskandar dari Yayasan Ibeka yang membangun proyek itu mengatakan telah melakukan
survei awal. Dari hasil survey, debit air minimal mampu menghasilkan listrik
sebesar 35.0000 sampai 38.000 watt, sehingga tetap mampu memberi pasokan aliran
listrik.
Sedangkan Direktur Coca Cola Indonesia mengharapkan
masyarakat agar menjaga fasilitas tersebut. Tatie juga menyerahkan secara resmi
pengelolaan PLTMH ini kepada Koperasi Tuah Krueng Kala Sejahtera yang diketuai
oleh Ramija. Tri Mumpuni dari yayasan Ibeka meminta masyarakat untuk tidak
menebang hutan sembarangan. Menurut dia, hutan menjadi sumber air untuk
membangkitkan energi listrik. Dikatakannya, untuk satu pohon besar saja, bisa
menghasilkan listrik sebesar satu kilo watt per jam.
Selain itu, Ramija, Ketua Koperasi Tuah Krueng Kala
mengakui setiap warga dibebankan membayar biaya pemasangan listrik sebesar Rp
100 ribu dan Rp 20 ribu untuk iuran bulanan dan pengembangan koperasi. Sementara
itu, Juari salah seorang warga Lhong mengatakan sejak listrik tersebut
diaktifkan sepekan lalu, desanya kembali terang, walau penggunaannya masih
sangat terbatas pada lampu dan televisi. "Sementara ini, tiap satu rumah
hanya diberi jatah 100 watt, sehingga tidak bisa digunakan untuk menyeterika dan
memasak," katanya.
Dijelaskannya, sementara ini penggunaan listrik
disetiap rumah seragam, yakni setengah amper, dengan iuran Rp 20 ribu per bulan.
Iuran tersebut nantinya dapat berubah sesuai dengan penggunaan, tergantung
kemampuan warga.(y)