Yayasan Nurani Dunia pimpinan Imam Prasojo dan XL Care tahun ini menyumbang
mobile library berupa Bajay dan rak gerobak ke Rumah Dunia. Serah terima
dilakukan saat Pesta Rumah Dunia ke-6, pada 9 Maret 2008 lalu. Saat itu
Rumah Dunia berulangtahun ke-6. Firman Venayaksa selaku Preside Rumah Dunia,
secara simbolis menerima mobile library yang kemudian kami beri nama
“Pustaka Keliling Rumah Dunia” alias Pusling RD. Awas, Pusling itu bukan
pusing tujuh keliling, lho! Tapi Pustaka Keliling.
Kami tentu bersemangat. Dari dulu kami ingin sekali road show,
mengungjungi langsung kantung-kantung kemiskinan, dimana kebodohan
bersarang. Kami ingin mengenalkan dunia kepada anak-anak lewat buku, warna,
dan swara. Di setiap tempat yang kami singgahi akan nada lomba-lomba
menggambar, menyanyi, dan membaca puisi. Hadiah-hadiah berupa piala, dan
seperangkat alat tulis kami sediakan. Kami ingin membentuk iklim kompetisi
kepada anak-anak Banten, agar mengenal apa itu arti kalah dan menang.
Sportivitas harus mereka maknai sejak dini.
“Kita – orang-orang dewasa, harus mau membahagiakan anak-anak. Kasihan
merka, kurang diperhatikan. Kita terlalu sibuk dan mabuk dengan
urusan-urusan politik local,” Firman gusar. “Merekalah sebetulnya calon para
pemimpin Banten di masa 25 tahun ke depan. Mereka harus dibahagiakan
sekarang, agar ketika mereka jadi pemimpin nanti, tidak memiliki jiwa
kanak-kanak seperti yang kita lihat pada pemimpi sekarang.”
Pada 2005, kami pernah meluncurkan program “Rumah Dunia Goes to school”.
Tiga sekolah kami datangi; SMA Jawilan, Serang Timur, SMAN 1 Rangkasbitung,
dan SMK Kimia Serang. Kegiatannya diklat fiksi, jurnalistik, dan pemutaran
film indie karya anak-anak Rumah Dunia. Tapi, karena tidak ada yang
mendanai, lalu bersama angin program itu.
pusling-piala-3.jpgANTUSIAS
Sambutan masyarakat di Serang sangat luar biasa dengan kehadiran PUSLING
RUMAH DUNIA. Sangat antusias. Kami pernah mencobanya di kampung Tegal Duren,
Cipocok. “Ketika masih diperjalanan, anak-anak mengejar-ngejar!” kata Roy,
sang supir.
Hampir tiap akhir pekan kami menerima undangan. Ada yang kami datangi.
Aji Setiakarya, Oky, Roy, dan Rozy menjadi relawan. Rute yang kami layani
tentu harus datar, karena mobil Bajay ini tidak kuat melewati jalan
tanjakan. Maklum, Bajay, coy! Kalau saja mobilnya kuat dan besar seperti
“Mobil Pintar Ani Susilo Bambang Yudhoyono”.
Kami sering membincangkan “Mobil Pintar Ani Susilo Bambang Yudhoyono”.
Kami pernah melihatnya di televise. Bahkan Gola Gong, ketika menerima
penghargaan “Nugra Jasadarma Putaloka” dari Perpustakaan Nasional Republik
Indonesia pada 30 Mei 2007, melihat Mobil Pintar Ani Susilo Bambang
Yudhoyono diparkir di halaman Perpusnas, Jl. Merdeka Selatan, Jakarta.
Spontan Gong nyeletuk, “Wah, Rumah Dunia mau, dong, dikasih satu!”
Gong memimpikan Mobil Pintar untuk Rumah Dunia sangat wajar. Selama ini
permintaan masyarakat ke Rumah Dunia untuk membuka cabang di pelosok-peosok
kampung di Serang sangat banyak. Hanya saja Rumah Dunia bukanlah sejenis
perusahaan waralaba. Jalan keluar yang terbaik, dengan Mobil Pintar. Tapi,
bagaimana caranya? Gong tidak memiliki jaringan untuk menemnus ke Ani Susilo
Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Jakarta.
Ternyata mimpi Gong, mimpi para relawan juga. Firman membicarakannya
dengan Penasehat Rumah Dunia, Wien Muldian dari Forum Indonesia Membaca.
Wien yang bekerja di Diknas Jakarta mencari informasi. Lalu durian pun
jatuh. “Kang, Rumah Dunia akan mendapat sumbangan mobile library dari Imam
Prasojo! Lumayanlah!” Firman mengabarkan di akhir tahun 2007.
Yah, tak ada rotan, akar pun jadilah. Tak ada Mobil Pintar Ani Susilo
Bambang Yudhoyono, mobile library Imam Prasojo pun jadilah. Alhamdulillah,
kami mensyukuri amanah ini!(GG)