Ketika rakyat kecil bersatu, ditambah sedikit bantuan sektor swasta, lokasi
bencana banjir pun bisa diubah menjadi lahan pencetak uang.
Itulah keberhasilan warga RW 01 Kampung Kapuk, Kelurahan Kapuk, Kecamatan
Cengkareng, Jakarta Barat, yang sejak Maret 2007 merintis budidaya lele dan
pembuatan kompos di perkampungan mereka yang senantiasa terendam air, sejak
persawahan habis dan pengurukan lahan merajalela.
Sepanjang Kamis (26/7) siang, warga memanen ratusan kilogram ikan lele dari
beberapa kolam ukuran 3 meter x 5 meter di sekitar rumah mereka. Lokasi kolam
lele adalah pekarangan rumah warga yang terendam banjir hingga setinggi 1,5
meter.
"Ini panen ketiga. Setiap kilogram dijual Rp 8.000. Satu kolam bisa
menghasilkan Rp 6,3 juta. Sekarang kami sudah menggunakan modal sendiri dan
mampu menyediakan bibit lele secara swadaya," kata Zuhri, Ketua RW 01, yang
bersama 576 warga di RT 10 merintis budidaya ikan lele.
Warga pun sudah mulai mahir mengusai seni budidaya lele. Pemijahan bibit
hingga siap tebar saat usia satu bulan sudah dipahami. Pola pemeliharaan selama
dua bulan hingga siap panen dan pengawasan terhadap ancaman penyakit serta
limbah sudah dipelajari.
Bahkan, kegiatan tersebut tidak hanya melibatkan warga setempat. Burhan (20),
keluarga pemilik peternakan lele di Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor,
dengan ikhlas membagi ilmu kepada warga.
Padahal, sebelumnya warga membeli bibit lele dari keluarga Burhan di Parung,
Kabupaten Bogor. Burhan dan keluarganya mengaku tidak takut kehilangan rezeki
karena membagi ilmu.
Saat ini jutaan rupiah sudah dihasilkan dari 15 kolam lele, yang
masing-masing dikelola tiga keluarga. Untuk menjamin kualitas, para petani lele
telah memiliki sertifikat kendali mutu dari Laboratorium Institut Pertanian
Bogor (IPB).
Banjir bantuan
Bantuan juga datang dari H Nasan Subagia, warga Purwakarta, Jawa Barat, yang
diminta Ketua Yayasan Nurani Dunia Imam Prasodjo guna mengajari masyarakat
membuat kerangka beton untuk jembatan di tengah kampung. Jembatan beton
sederhana sepanjang 120 meter turut dibantu oleh pihak Bank Standard Chartered.
Nurani Dunia bersama Bank Standard Chartered juga menggelar program ramah
lingkungan, dengan membuat kompos dari sampah. Sebulan terakhir ini, sampah
organik dan dedaunan dari "rawa" di sekitar lokasi banjir dimanfaatkan untuk
kompos dan pupuk cair.
Awi (30), warga setempat. mengaku sudah sebulan lebih membuat kompos. "Setiap
hari ada yang beli. Ada pembeli yang dari perumahan mewah juga. Sudah ratusan
kilogram dijual," katanya.
Bantuan fisik juga datang dari warga korban kebakaran di Jalan Bonang,
Menteng, Jakarta Pusat. Meski belum memiliki rumah permanen setelah kebakaran,
mereka dengan sukarela membantu warga Kampung Kapuk.
Sebagai balasan, pekan lalu, warga Kampung Kapuk yang datang menggunakan dua
bus pun membantu dengan bergotong royong membangun sebagian sarana fisik di
lokasi bekas kebakaran.
"Ini inisiatif dari, oleh, dan untuk sesama warga. Swasta seperti kami
bersama Bank Standard Chartered hanya memberi sentuhan kecil. Seandainya di
Jakarta ada 1.000 atau 100 kampung swadaya seperti ini, tentu lain ceritanya,"
kata Imam. (Iwan Santosa)