Sistem pendidikan di Indonesia saat ini masih sangat terpengaruh dan
mengikuti arus global sehingga penyelenggaraannya mengalami kekurangan dalam hal
orientasi sasaran dan kesadaran terhadap potensi yang dimiliki.
"Dunia pendidikan di Indonesia dinilai pula masih kurang memerdekakan bagi
peserta didik," kata Conny R Semiawan, guru besar emeritus Universitas Negeri
Jakarta (UNJ), dalam acara bedah buku karyanya berjudul Catatan Kecil tentang
Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan di Jakarta, Kamis (5/7).
Tampil sebagai pembahas dalam bedah buku itu adalah Imam B Prasodjo (sosiolog
yang kini banyak terlibat dalam perbaikan sekolah rusak lewat Yayasan Nurani
Dunia) dan ahli evaluasi pendidikan Hamid Hasan.
"Penyelenggaraan pendidikan seharusnya memiliki kesadaran terhadap sasaran
yang ingin dicapai," kata Conny.
Menurut Conny, mendidik dalam dunia pendidikan saat ini hanyalah mentransfer
pengetahuan. Para pendidik kurang menyampaikan nilai-nilai sasaran bagi para
peserta didiknya.
Sekalipun ada penyampaian nilai-nilai tersebut, lanjut Conny, penyampaiannya
tetap kurang menyentuh. Apalagi dunia pendidikan di Indonesia, khususnya untuk
pendidikan dasar dan menengah, saat ini juga dibebani dengan berbagai
standardisasi, termasuk ujian nasional.
Standardisasi pendidikan seperti itu sama sekali tidak menyentuh orientasi
kesadaran akan tujuan dari penyelenggaraan pendidikan. Orientasi sasaran
pendidikan, menurut Conny, telah hilang bersamaan dengan ditetapkannya standar
nilai dari hasil ujian.
Perlu dirombak
Imam B Prasodjo menegaskan, sebetulnya perlu diteliti ulang, apakah negara
memiliki hak untuk membatasi peserta didik untuk mempelajari sesuai dengan yang
diinginkan. Konsep pendidikan yang memerdekakan itu yang harus dicapai.
"Dunia pendidikan perguruan tinggi harus ada yang mulai meruntuhkan
tembok-tembok jurusan. Bagi seorang mahasiswa, seharusnya dalam mengenyam
pendidikan memiliki kebebasan dalam menentukan apa saja yang ingin dipelajari,"
kata Imam.
Imam melanjutkan, mengutip apa yang disampaikan Conny dalam buku karya
terbarunya itu, seharusnya sistem pendidikan saat ini digiatkan dalam bentuk
transdisipliner. Sasaran yang ingin dicapai juga dipertegas, yaitu adanya
transkultural.
"Orientasi sasaran pendidikan transkultural ini sangat jelas diperlukan,
mengingat kondisi budaya dari Sabang sampai Merauke sangat beragam," kata Imam
Prasodjo. (NAW)