Minggu lalu terbukti sms berisi penjarahan ternyata isu kosong. Sebelumnya,
isu gempa yang meluas juga terbukti palsu. Seberapa kuatkah masyarakat Indonesia
terhadap Isu Kosong?
Minggu lalu pihak keamanan di Jakarta berhasil mengungkap otak di balik
pengiriman sms, yang mengajak masyarakat untuk menjarah pusat pertokoan.
Pengirim ternyata seorang anggota organisasi politik. Apakah dirinya mencoba
mengail di air keruh? Menurut pengakuan si pengirim, dirinya tidak bertujuan
untuk memperburuk suasana. Ia hanya merasa prihatin dengan penanganan banjir
yang tidak memadai oleh pemerintah. Menurut pengakuannya, ia tidak menyangka sms
buatannya akan menyebar luas ke masyarakat, karena ia mengaku hanya mengirimkan
kepada orang-orang tertentu saja, yang ia yakin tidak akan terpengaruh oleh sms
tersebut. Namun apa boleh buat, ia kini harus mendekam di balik tahanan untuk
mempertanggungjawabkan perbuatannya tersebut. Kini pembahasan kita adalah dari 2
sudut, dari sudut si pengirim dan sudut si penerima.
Sosiolog Imam B. Prasodjo PhD berpendapat, bagaimana isu tidak jelas bisa
berpengaruh terhadap masyarakat, paling tidak disebabkan oleh 2 faktor penting.
Faktor pertama menurutnya adalah struktur masyarakat, dengan jalur-jalur yang
ada di Indonesia, yaitu apakah terdapat jalur informasi formal dan kredibel yang
kuat. Sehingga jika ada sesuatu hal yang terjadi, struktur ini bisa digunakan.
Setiap kali terdapat peristiwa penting, pemerintah dan pers secara proaktif
melakukan penjelasan yang transparan, terbuka dan kredibel untuk menerangkan
isu-isu secara informal. Jadi struktur dengan jalur tersebut mempunyai kekuatan.
Faktor kedua, adalah tergantung dari pendidikan masyarakat terhadap
penyikapan informasi. Imam Prasodjo menjabarkan bahwa semakin kritis seseorang
dan masyarakat, maka semakin tidak mudah percaya kepada sumber informasi
tunggal. Orang yang berpikiran kritis, tidak akan mudah percaya, karena sebelum
melakukan tindakan apapun, akan berupaya untuk cek dan ricek. Sayangnya, menurut
sosiolog dari Universitas Indonesia ini, di Indonesia, kekuatan jalur-jalur
formal yang kredibel atau jelas terpercaya masyarakat, masih lemah. Padahal
sesungguhnya terdapat televisi atau radio berita, yang menyiarkan kabar
sepanjang hari. Namun jalur-jalur komunikasi massa tersebut dinilai tidak
dimanfaatkan oleh pemerintah. Maka itu akibatnya, masyarakat harus
mengeksplorasi sendiri ke mana mendapatkan informasi. Di situlah isu bisa masuk
dan sangat rentan.
Menarik untuk disimak lebih lanjut, adalah penggunaan teknologi sms untuk
penyebaran isu kosong seperti ini. Mengapa SMS menjadi sarana favorit? Pengamat
teknologi Onno W. Purbo mengemukakan pandangannya.
“Kalau orang mau menyebarkan sesuatu, targetnya pasti ingin sebanyak orang
bisa menerima informasi itu. Kebetulan yang menggunakan selular di Indonesia itu
sebanyak 30 juta lebih pelanggan. Jauh lebih banyak daripada pesawat telepon dan
internet, jadi lebih menarik menggunakan sms sebetulnya.”
Sistem SMS memang mudah dan murah. Setiap orang yang memiliki telepon
seluler, dengan mudah tinggal mengetik pesan singkat di telepon genggamnya
masing-masing. Lebih menariknya lagi, pesan singkat tersebut bisa secara
sekaligus dikirimkan ke sebanyak-banyaknya orang. Gampang dan mudah. Maka itulah
tidak heran jika SMS menjadi sarana favorit untuk mengirimkan suatu kabar.
Termasuk oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Tapi kalau tingkat
pendidikan seseorang sudah mencukupi, mestinya sms berisi pesan palsu tidak
dengan mudah diterima oleh masyarakat. Bukankah demikian? Menurut Sosiolog Imam
Prasodjo, tingkat pendidikan itu tidak hanya secara formal, tapi juga yang
penting adalah kemampuan seseorang untuk berpikir secara kritis atau critical
thinking-nya. Masalahnya seperti yang telah disampaikannya tadi, bahwa sangat
disayangkan di Indonesia tidak tersedia jalur-jalur informasi yang kuat dan
kredibel. Selama sumber-sumber yang bisa dipercaya tersebut belum bisa
memberikan layanan kepada masyarakat, dan memiliki keakuratan atau kewibawaan,
maka tentunya sulit bagi masyarakat untuk memverifikasi informasi tersebut.
Bicara mengenai intelektualitas juga, sebenarnya agak aneh jika masih ada
orang yang mengirimkan isu kosong via sms. Menurut Onno W. Purbo, ini disebabkan
si pengirim sebenarnya kurang mengerti apa yang bisa dilakukan oleh teknologi.
Dalam artian, identitas dirinya pasti terungkap, seberapapun luasnya pesan
tersebut telah tersebar.
“Kadang-kadang orang tidak mikir itu, tidak hanya sms, email juga. Yang
mengirimkan kadang tidak mengerti betul teknologinya, pokoknya dia mau kirim
aja. Tapi sebenarnya bisa dilacak, kalau mau dilacak bisa.”
Untuk mencegah supaya isu-isu kosong menyebar dengan mudah, sebenarnya bisa
dilakukan dengan menyediakan saluran informasi yang jelas. Kekritisan masyarakat
sebenarnya tidak diragukan, namun ketiadaan sumber informasi tetap bisa membuat
keraguan bertahan di tengah-tengah masyarakat. Mereka yang merasa harus cepat
bertindak, akhirnya lebih memilih jalan aman, dan membuat mereka mengikuti apa
yang disebutkan oleh pesan kosong tersebut. Hal ini tidak hanya terjadi di
Indonesia, tapi di setiap masyarakat termasuk di negara maju.
“Pertama SMS itu teknologi baru, kita masuk dari masyarakat komunal yang flow
of information terbatas. Sekarang terbuka, semua orang bisa mengirimkan apa saja
kepada semua orang, itu baru, sehingga gelombang keterkejutan akibat keterbukaan
ini juga tentu masih ada. Jangankan masyarakat Indonesia, masyarakat Amerika
juga dalam kasus tertentu bisa terombang-ambing. Dan kasus-kasus yang buat orang
panik, selalu terjadi tidak hanya di Indonesia.”
Demikian tutur Imam Prasodjo. Pengiriman isu via sms, sebenarnya bisa jadi
disebabkan bukan karena ingin mengacau, tapi lebih pada percobaan terhadap
teknologi yang baru dikenal. Sifat dasar manusia yang ingin tahu, di sini
muncul, sehingga bisa jadi si pengirim iseng ingin mengetahui, seberapa jauh
pesan yang dibuatnya bisa menyebar luas.
“Kita harus memperhitungkan juga. Misalnya hacker computer, mulai dari yang
iseng. Yang bangga kalau dia bisa jebol securitynya Pentagon. Tapi belum tentu
dia punya motif politik. Itu tadi, orang iseng, orang ingin uji diri, sampai ke
yang motif politik. Orang yang begini juga bisa, iseng untuk sms.”
Masalahnya, si pengirim tadi tidak menyadari, kalau pesan iseng yang
dibuatnya bisa berimplikasi serius.
“Begitu juga dengan sms. SMS ini khan senjata baru, bisa mem-blackmail orang,
bisa menceritakan sesuatu yang tidak benar. Tidak ada pemikirian bahwa ini alat
yang luar biasa ampuhnya bisa mengacaukan situasi. Ketersediaan teknologi baru
seringkali tidak dipikirkan implikasi moral atau sosialnya.”
Maka itu kini semuanya kembali kepada kebijakan masing-masing orang. Kita
sebagai pemilik alat tertentu, harus bisa menjadi penguasa teknologinya. Dalam
artian selain memanfaatkan fitur yang tersedia, kita juga harus bisa arif dalam
menyikapi segala sesuatu yang ditimbulkan oleh teknologi tersebut. Pengamat
teknologi Onno W. Purbo memberikan tipsnya bagi Anda yang menerima pesan yang
menimbulkan kebingungan.
“Gak susah sebenarnya. Pertama yang harus dilakukan, kalau informasinya
kritis atau fatal, jangan langsung percaya, lakukan kroscek selalu. Kalau
informasinya biasa-biasa saja ya terima aja. Tapi kalau misalnya berbahaya,
misalnya SMSnya isinya, “account bank anda harus diupdate, tolong kirim
passwordnya ke no ini,” nah jangan langsng percaya, tanya dulu ke banknya. Jadi
informasi kritis harus dikroscek dulu, jangan langsung percaya.”
Kini, kita paham mengapa kita bukan hanya pengguna, tapi harus jadi penguasa
teknologi.
Masyarakat Indonesia sebenarnya tidak semudah itu dimakan isu kosong, tapi
masalahnya sumber informasi yang kredibel kurang mudah diakses. Sudah saatnya
pihak yang berwenang memperhatikan hal ini, agar isu kosong tidak mudah
berkembang. [aji : aji @ mediacorp.com.sg]