Tuesday, September 7, 2010 - this site has been visited by visitors | admin | indonesia 

people to people aid


dari kita untuk sesama

calendar of events
September 2010
S M T W T F S
1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930

 

:.•Nurani Dunia and the Press

Mediacorp Radio, February 12, 2007

Rapuhkah Masyarakat Indonesia Terhadap Isu?

Minggu lalu terbukti sms berisi penjarahan ternyata isu kosong. Sebelumnya, isu gempa yang meluas juga terbukti palsu. Seberapa kuatkah masyarakat Indonesia terhadap Isu Kosong?

Minggu lalu pihak keamanan di Jakarta berhasil mengungkap otak di balik pengiriman sms, yang mengajak masyarakat untuk menjarah pusat pertokoan. Pengirim ternyata seorang anggota organisasi politik. Apakah dirinya mencoba mengail di air keruh? Menurut pengakuan si pengirim, dirinya tidak bertujuan untuk memperburuk suasana. Ia hanya merasa prihatin dengan penanganan banjir yang tidak memadai oleh pemerintah. Menurut pengakuannya, ia tidak menyangka sms buatannya akan menyebar luas ke masyarakat, karena ia mengaku hanya mengirimkan kepada orang-orang tertentu saja, yang ia yakin tidak akan terpengaruh oleh sms tersebut. Namun apa boleh buat, ia kini harus mendekam di balik tahanan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya tersebut. Kini pembahasan kita adalah dari 2 sudut, dari sudut si pengirim dan sudut si penerima.

Sosiolog Imam B. Prasodjo PhD berpendapat, bagaimana isu tidak jelas bisa berpengaruh terhadap masyarakat, paling tidak disebabkan oleh 2 faktor penting. Faktor pertama menurutnya adalah struktur masyarakat, dengan jalur-jalur yang ada di Indonesia, yaitu apakah terdapat jalur informasi formal dan kredibel yang kuat. Sehingga jika ada sesuatu hal yang terjadi, struktur ini bisa digunakan. Setiap kali terdapat peristiwa penting, pemerintah dan pers secara proaktif melakukan penjelasan yang transparan, terbuka dan kredibel untuk menerangkan isu-isu secara informal. Jadi struktur dengan jalur tersebut mempunyai kekuatan.

Faktor kedua, adalah tergantung dari pendidikan masyarakat terhadap penyikapan informasi. Imam Prasodjo menjabarkan bahwa semakin kritis seseorang dan masyarakat, maka semakin tidak mudah percaya kepada sumber informasi tunggal. Orang yang berpikiran kritis, tidak akan mudah percaya, karena sebelum melakukan tindakan apapun, akan berupaya untuk cek dan ricek. Sayangnya, menurut sosiolog dari Universitas Indonesia ini, di Indonesia, kekuatan jalur-jalur formal yang kredibel atau jelas terpercaya masyarakat, masih lemah. Padahal sesungguhnya terdapat televisi atau radio berita, yang menyiarkan kabar sepanjang hari. Namun jalur-jalur komunikasi massa tersebut dinilai tidak dimanfaatkan oleh pemerintah. Maka itu akibatnya, masyarakat harus mengeksplorasi sendiri ke mana mendapatkan informasi. Di situlah isu bisa masuk dan sangat rentan.

Menarik untuk disimak lebih lanjut, adalah penggunaan teknologi sms untuk penyebaran isu kosong seperti ini. Mengapa SMS menjadi sarana favorit? Pengamat teknologi Onno W. Purbo mengemukakan pandangannya.

“Kalau orang mau menyebarkan sesuatu, targetnya pasti ingin sebanyak orang bisa menerima informasi itu. Kebetulan yang menggunakan selular di Indonesia itu sebanyak 30 juta lebih pelanggan. Jauh lebih banyak daripada pesawat telepon dan internet, jadi lebih menarik menggunakan sms sebetulnya.”

Sistem SMS memang mudah dan murah. Setiap orang yang memiliki telepon seluler, dengan mudah tinggal mengetik pesan singkat di telepon genggamnya masing-masing. Lebih menariknya lagi, pesan singkat tersebut bisa secara sekaligus dikirimkan ke sebanyak-banyaknya orang. Gampang dan mudah. Maka itulah tidak heran jika SMS menjadi sarana favorit untuk mengirimkan suatu kabar. Termasuk oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Tapi kalau tingkat pendidikan seseorang sudah mencukupi, mestinya sms berisi pesan palsu tidak dengan mudah diterima oleh masyarakat. Bukankah demikian? Menurut Sosiolog Imam Prasodjo, tingkat pendidikan itu tidak hanya secara formal, tapi juga yang penting adalah kemampuan seseorang untuk berpikir secara kritis atau critical thinking-nya. Masalahnya seperti yang telah disampaikannya tadi, bahwa sangat disayangkan di Indonesia tidak tersedia jalur-jalur informasi yang kuat dan kredibel. Selama sumber-sumber yang bisa dipercaya tersebut belum bisa memberikan layanan kepada masyarakat, dan memiliki keakuratan atau kewibawaan, maka tentunya sulit bagi masyarakat untuk memverifikasi informasi tersebut.

Bicara mengenai intelektualitas juga, sebenarnya agak aneh jika masih ada orang yang mengirimkan isu kosong via sms. Menurut Onno W. Purbo, ini disebabkan si pengirim sebenarnya kurang mengerti apa yang bisa dilakukan oleh teknologi. Dalam artian, identitas dirinya pasti terungkap, seberapapun luasnya pesan tersebut telah tersebar.

“Kadang-kadang orang tidak mikir itu, tidak hanya sms, email juga. Yang mengirimkan kadang tidak mengerti betul teknologinya, pokoknya dia mau kirim aja. Tapi sebenarnya bisa dilacak, kalau mau dilacak bisa.”

Untuk mencegah supaya isu-isu kosong menyebar dengan mudah, sebenarnya bisa dilakukan dengan menyediakan saluran informasi yang jelas. Kekritisan masyarakat sebenarnya tidak diragukan, namun ketiadaan sumber informasi tetap bisa membuat keraguan bertahan di tengah-tengah masyarakat. Mereka yang merasa harus cepat bertindak, akhirnya lebih memilih jalan aman, dan membuat mereka mengikuti apa yang disebutkan oleh pesan kosong tersebut. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi di setiap masyarakat termasuk di negara maju.

“Pertama SMS itu teknologi baru, kita masuk dari masyarakat komunal yang flow of information terbatas. Sekarang terbuka, semua orang bisa mengirimkan apa saja kepada semua orang, itu baru, sehingga gelombang keterkejutan akibat keterbukaan ini juga tentu masih ada. Jangankan masyarakat Indonesia, masyarakat Amerika juga dalam kasus tertentu bisa terombang-ambing. Dan kasus-kasus yang buat orang panik, selalu terjadi tidak hanya di Indonesia.”

Demikian tutur Imam Prasodjo. Pengiriman isu via sms, sebenarnya bisa jadi disebabkan bukan karena ingin mengacau, tapi lebih pada percobaan terhadap teknologi yang baru dikenal. Sifat dasar manusia yang ingin tahu, di sini muncul, sehingga bisa jadi si pengirim iseng ingin mengetahui, seberapa jauh pesan yang dibuatnya bisa menyebar luas.

“Kita harus memperhitungkan juga. Misalnya hacker computer, mulai dari yang iseng. Yang bangga kalau dia bisa jebol securitynya Pentagon. Tapi belum tentu dia punya motif politik. Itu tadi, orang iseng, orang ingin uji diri, sampai ke yang motif politik. Orang yang begini juga bisa, iseng untuk sms.”

Masalahnya, si pengirim tadi tidak menyadari, kalau pesan iseng yang dibuatnya bisa berimplikasi serius.

“Begitu juga dengan sms. SMS ini khan senjata baru, bisa mem-blackmail orang, bisa menceritakan sesuatu yang tidak benar. Tidak ada pemikirian bahwa ini alat yang luar biasa ampuhnya bisa mengacaukan situasi. Ketersediaan teknologi baru seringkali tidak dipikirkan implikasi moral atau sosialnya.”

Maka itu kini semuanya kembali kepada kebijakan masing-masing orang. Kita sebagai pemilik alat tertentu, harus bisa menjadi penguasa teknologinya. Dalam artian selain memanfaatkan fitur yang tersedia, kita juga harus bisa arif dalam menyikapi segala sesuatu yang ditimbulkan oleh teknologi tersebut. Pengamat teknologi Onno W. Purbo memberikan tipsnya bagi Anda yang menerima pesan yang menimbulkan kebingungan.

“Gak susah sebenarnya. Pertama yang harus dilakukan, kalau informasinya kritis atau fatal, jangan langsung percaya, lakukan kroscek selalu. Kalau informasinya biasa-biasa saja ya terima aja. Tapi kalau misalnya berbahaya, misalnya SMSnya isinya, “account bank anda harus diupdate, tolong kirim passwordnya ke no ini,” nah jangan langsng percaya, tanya dulu ke banknya. Jadi informasi kritis harus dikroscek dulu, jangan langsung percaya.”

Kini, kita paham mengapa kita bukan hanya pengguna, tapi harus jadi penguasa teknologi.

Masyarakat Indonesia sebenarnya tidak semudah itu dimakan isu kosong, tapi masalahnya sumber informasi yang kredibel kurang mudah diakses. Sudah saatnya pihak yang berwenang memperhatikan hal ini, agar isu kosong tidak mudah berkembang. [aji : aji @ mediacorp.com.sg]

kembali

 
Nurani Dunia Foundation
Jl. Proklamasi No. 37, Jakarta Pusat 10320, Indonesia | Tel. (+6221) 391-3768 / Fax. (+6221) 3910-579

© Nurani Dunia 2010 | supported by Telkom & Plasa.com | Rebuild by PT. Onevision