Friday, September 10, 2010 - this site has been visited by visitors | admin | indonesia 

people to people aid


dari kita untuk sesama

calendar of events
September 2010
S M T W T F S
1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930

 

:.•Nurani Dunia and the Press

Majalah Sadar, September 1, 2006

Komunitas Bonang : Mencari Kebaikan di Tengah Konflik

Dulu daerah ini terkenal karena penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba serta tawuran antar kampung. Hampir tiap tiga bulan sekali terjadi tawuran antar kampung, bahkan sampai melakukan aksi bakar-bakaran rumah. Peredaran narkoba di daerah ini seperti pasar, banyak orang berlalu lalang untuk mencari narkoba secara terang-terangan.

Mungkin anda pernah mendengar Kampung Bonang, sebuah kawasan padat penduduk di belakang Tugu Proklamasi, tepatnya di RW 06 Kelurahan Pegangsaan, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat. Bisa jadi RW 06 di Kampung Bonang adalah RW yang memiliki RT terbanyak di Jakarta karena terdiri sampai 20 RT. Luas daerahnya terbentang dari pintu air Manggarai sampai belakang Tugu Proklamasi.

Dulu daerah ini memang salah satu kawasan “bronx” atau kawasan rawan konflik di Jakarta. Keamanan, ketenangan, dan kerukunan merupakan sesuatu yang sangat sulit didapat di daerah ini. Penyebabnya adalah tawuran antar kampung yang sering terjadi, maraknya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, serta tingginya tingkat pengangguran. Perkelahian hampir tiap hari terjadi, diselingi tawuran antar kampung yang bisa 4 sampai 5 kali dalam setahun.

“Musuh”' dari Kampung Bonang bisa berasal dari mana saja, terutama dari Matraman dan Menteng Jaya. Kadang-kadang bahkan sampai daerah Berlan. Kalau sudah “perang” jalanan dan pemukiman penduduk dijadikan medan tempur, tidak sedikit pula rumah penduduk yang habis dibakar dan nyawa yang melayang. Penyebabnya bisa bermacam-macam, bahkan hanya karena kereta lewat bisa memicu tawuran. Tapi secara umum, narkoba serta banyaknya pengangguran adalah sumber musabab. Setiap minggu ada saja seorang pemuda yang melayang nyawanya akibat overdosis (OD) karena di daerah ini kurang lebih 40 % warganya adalah penyalaguna dan pengedar narkoba.

Senam Aerobik Peredam Konflik

Konflik terus terjadi, tawuran yang tadinya hanya melibatkan pemuda melebar sampai melibatkan ibu-ibu. Setiap ibu-ibu yang berasal dari daerah yang bermusuhun bertemu, mereka pasti bertengkar bahkan sampai jambak-jambakan rambut dan mempertunjukkan (maaf) bagian bokong untuk meledek satu sama lain. Sampai pada tahun 2000, ketika tawuran antar kampung sedang sering-seringnya-sekelompok warga yang merasa lelah karena konflik di wilayah mereka tidak kunjung padam mencoba melakukun sesuatu, yaitu senam aerobik bersama di lapangan Gedung Proklamasi.

Rodliana Siddik, sang instruktur senam menceritakan bahwa awal mula tercetus ide senam aerobik bersama adalah karena dirinya berrtemu dengan seorang ibu dari daerah Menteng Jaya, bernama Ibu Ratih. Di luar dugaan Rosdiana, bukannya mengajak berantem (mengingat ibu itu dari daerah musuh), Ibu Ratih malah menegur Rosdiana. Rupanya mereka berdua memilihi perasaan yang sama, prihatin dan lelah dengan tawuran antar warga yang selama ini selalu melanda wilayah mereka. “Kita berdua sepakat untuk tidak ikut-ikutan berantem. Malah kita berdua berfikir bagaimana caranya agar tawuran, terutama tawuran antar ibu-ibu bisa berhenti. Akhirnya karena saya instruktur aerobik saya mengajaknya untuk senam aerobik bersama. Mulai saat itu setiap minggu pagi kita senam aerobik bersama di lapangan Gedung Proklamasi," tuturRosdiana.

Awalnya senam bersama hanya diikuti oleh 6 ibu-ibu. Namun seiring waktu, jumlahnya terus meningkat. Hasilnya memang tawuran antar warga belum berhenti, tapi minimal tidak ada lagi ibu-ibuyang bertengkar dan jambak-jambakan rambut di daerah tersebut. "Mereka malu sama saya yang mengajarkan senam kepada mereka," terang wanita yang selalu terlihat energik meski usianya telah mencapai kepala 4.

Upaya Rosdiana menggerakkan kaum ibu untuk ikut senam aerobik ini tidak dilakukan sendirian. Sang suami, Megi Budi Sumarno yang kebetulan sama-sama memiliki hobi olahraga dan selalu mengikuti senam aerobik pimpinan istrinya, mendukung dan aktif mengajak ibu-ibu yang lain untuk ikut senam. Megi juga selalu membantu agar kegiatan senam yang dilaksanakan setiap minggu pagi ini bisa selalu terlaksana.

Bertemu Imam Prasodjo

Pada periode awal ibu-ibu melakukan senam aerobik, Megi melihat seorang pria yang sedang melakukan joging di lapangan Proklamasi. Pria tersebut adalah Dr.Imam Prasodjo, seorang sosiolog kenamaan dari Universitas Indonesia. Imam kebetulan juga tinggal di wilayah sekitar Gedung Proklamasi. Dengan ramah Imam menyapa ibu-ibu yang sedang senam. Minggu berikutnya Imam malah menyumbangkan alat pemutar kasetnya untuk mereka. "Ini Pak Megi, saya nyumbang untuk senam, kalau bisa Bapak cari anggota lebih banyak lagi." Dukung Imam kepada Megi. Ketua Yayasan Nurani Dunia ini juga berjanji kepada Megi akan membantu penyediaan seragam olahraga.

Melihat sosok seorang Imam yang begitu dermawan, Megi kemudian memberanikan diri untuk bercerita tentang kondisi wilayah RW 06. "Saya pikir Pak Imam kan sosok yang sering terlihat di tivi dan terkenal sering menolong orang-orang yang sedang dalam konflik di berbagai daerah. Lalu saya beranikan diri ngobrol dengan Pak Imam. Saya bilang karena Bapak kan kebetulan warga di wilayah kita dan sering memberikan bantuan. Barang kali Bapak berkenan untuk maen ke dalam RW 06. Di wilayah Bapak juga masih banyak yang perlu dibantu," ujar pria yang berasal dari Bandung ini,

Tadinya Imam memang belum berani masuk ke wilayah RW 06. Akhirnya dengan diantar oleh Megi, Imam berani melihat-lihat kondisi dan masalah-masalah yang terjadi. Sejak saat itu, tepatnya sejak tahun 2002, Yayasan Nurani Dunia bersama warga RW 06 melakukan program pemberdayaan komunitas. Bersama dengan warga, Nurani Duma mengajak beberapa perusahaan yang ada di sekitar Jalan Proklamasi seperti Majalah Tempo dan Sisindosat untuk ikut terlibat dalam usaha pengembangan komunitas ini.

Selanjutnya, Imam mengajak beberapa kenalan meninjau wilayah RW 06, di antaranya Bambang Harimurti, Pemimpin Redaksi Majalah Tempo saat itu. Majalah Tempo kemudian memberikan bantuan dengan membuat satu lapangan bulutangkis. "Kita juga coba bikin kegiatan-kegiatan yang lain. Terbentuklah Forum Warga Cinta Damai, tujuannya agar tawuran bisa berkurang. Dengan bantuan Yayasan Nurani Dunia, Bank Mandiri memberikun bantuun 500 lembar kaos olahraga untuk senam yang bertuliskan Forum Warga Cinta Damai," papar Rosdiana girang.

Setelah ibu-ibu di kawasan itu bersatu lewat senam aerobik, sedikit demi sedikit tawuran kian berkurang. “Dengan adanya ibu-ibu bersatu, setiap ada tawuran bukan polisi tapi ibu-ibu yang kita terjunkan. Akhirnya anak-anak remaja yang pada berantem kan pada bingung dan malu, masa mau berantem sama ibunya sendiri. Sejak saat itu mulai berkurang karena pada minder. Di samping itu kita juga kerjasama dengan Polres bahwa siapa biang keladinya kita angkut dulu. Alhamdulillah sekarang sudah berkurang tawurannya.” Tutur Megi.

Lahirnya RBKP

Tahun 2003, setahun setelah Forum Warga Cinta Damai terbentuk, tawuran sudah jauh berkurang. Namun permasalahan sosial yang lain masih ada, seperti penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba serta masih banyaknya pengangguran. Bersama warga, Nurani Dunia kemudian mencari sponsor untuk membentuk pusat pelatihan berbagai kegiatan yang telah dirancang bersama warga untuk menanggulangi masalah-masalah sosial tadi.

Akhirnya GE Consumer Finance (GECF) bersedia menjadi sponsor dengan membiayai harga sewa sebuah rumah yang dijadikun pusat pelatihan yang diberi nama "Rumah Belajar Komunitas Proklamasi" (RBKP). Megi akhirnya dipercaya untuk mcnjadi Koordinator RBKP dan Project Officer Community Development Program di Nurani Dunia.

Dengan adanya RBKP ini, masyarakat secara aktit mengembangkan berbagai kegiatan di antaranya pengajian remaja, marawis, komputer, desain grafis, sablon dan ilmu pemasaran. "Tujuannya agar mereka tidak main liar atau main di tempat-tempat yang berpotensi terkena narkoba," ucap Megi.

Menurut Megi, walaupun RBKP belum pernah dikunjungi oleh orang-orang penting di negeri ini, namun Karen P Hughes, Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) bidang Diplomasi Publik dan Hubungan Masyarakat yang didampingi Duta Besar AS untuk Indonesia saat itu, Lynn Pascoe pernah menyusuri gang selebar 1,5 meter di kawasan RW 06 untuk mengunjungi RBKP Da1am acara buka puasa bersama tersebut, Karen dan Pascoe membagikan tas sekolah beserta isinya yang bertuliskan "Salam perdamaian dari anak-anak Amerika" kepada 200 anak-anak. Selain Karen, perwakilan dari tujuh kedutaan besar di Jakarta pun sudah pernah mengunjungi RBKP.

Program-program yang dilakukan di RBKP secara umum meliputi empat program, yaitu pendidikan, kesehatan dan lingkungan, pemberdayaan ekonomi, serta olahraga dan seni. Dalam bidang pendidikan, pemuda-pemuda di kawasan RW 06 dcngan sukarela mengajarkan bahasa Inggris, matematika, komputer, serta pelajaran lainnya kepada anak-anak SD. Sedangkan untuk anak-anak SMP dan SMU, pelajaran komputer, desain grafis, sablon, dan pemasaran, bisa mereka ikuti.

Membuat Oshibana Di bidang pemberdayaan ekonomi, ibu-ibu mendapatkan pelatihan membuat kartu oshibana (kartu dengan hiasan daun/bunga kering). Kesenian yang berasal dari negeri sakura ini diajarkan langsung oleh Mutia yang tidak lain adalah adik Imam Prasodjo sendiri, Mutia yang pernah tinggal di Jepang, dengan sukarela dan atas dasar kemauannya sendiri melatih ibu-ibu agar bisa membuat oshibana. Apabila hasilnya bagus, satu kartu oshibana dihargai 1 dollar AS atau sekitar 9.000 rupiah. Sampai saat ini baru enam orang yang mampu menghasilkan kartu oshibana dengan kualitas yang bagus. Rata-rata mereka mendapatkan pendapatan tambahan mencapai 800 ribu - 1,5 juta rupiah.

Selain membuat oshibana, RBKP dan Nurani Dunia juga berusaha mengurangi tingkat pengangguran. Bekerjasama dengan perusahaan sekitar wilayah, beberapa remaja sesuai pendidikannya mendapat kesempatan praktek kerja. Beberapa orang di antara mereka mendapatkan kesempatan kerja secara permanen.

Di bidang olahraga dan seni, kegiatan senam aerobik setiap minggu pagi tetap rutin dilaksanakan. Selagi para ibu melakukan senam, anak-anaknya bisa belajar melukis. Sedangkan di bidan kesehatan, dokter-dokter dari Mercy biasanya menggelar pengobatan gratis tiap tahunnya.

lkut Menanggulangi Masalah Narkoba

Sadar bahwa daerah yang mereka tinggali tinggi tingkat penyalahgunaan dan peredaran narkoba, masyarakat RW 06 pun serius untuk menanggulangi permasalahan tersebut. Secara tidak langsung, berdirinya RBKP telah menurunkan tingkat penyalahgunaan narkoba di daerah itu. Hal ini sesuai dengan fokus utama mrreka, yaitu menyelamatkan para pemuda yang belum terkena narkoba. Untuk para pemuda yang sudah kena narkoba, Megi mengatakan bahwa ia beserta para remaja yang aktif menjadi anggota RBKP selalu mengajak mereka untuk sembuh. “Saya selalu tawarkan apakah mereka mau direhab atau tidak. Kalau mau, kita akan urus surat-suratnya dan akan di rujuk ke Panti Rehabilitasi Pamardisiwi di BNN, “ Papar Megi.

Hasilnya sungguh menggembirakan. Selain tingkat penyalahgunaan narkoba menurun, masyarakat pun secara aktif berani mengusir para pembeli narkoba yang datang ke wilayah tersebut. Akibatnya tingkat peredaran narkoba pun menurun. Sebuah keberhasilan yang patut ditiru oleh kumunitas masyarakat yang lain. Dibutuhkan lebih banyak Imam, Megi, Mutia, Rosdiana, dan orang-orang yang peduli lainnya, agar setiap komunitas masyarakat di wilayah-wilayah lain di tanah air bisa berswadaya dan memiliki kualitas kehidupan yang lebih baik. Anda terinspirasi ?

kembali

 
Nurani Dunia Foundation
Jl. Proklamasi No. 37, Jakarta Pusat 10320, Indonesia | Tel. (+6221) 391-3768 / Fax. (+6221) 3910-579

© Nurani Dunia 2010 | supported by Telkom & Plasa.com | Rebuild by PT. Onevision