Dulu daerah ini terkenal karena penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba
serta tawuran antar kampung. Hampir tiap tiga bulan sekali terjadi tawuran antar
kampung, bahkan sampai melakukan aksi bakar-bakaran rumah. Peredaran narkoba di
daerah ini seperti pasar, banyak orang berlalu lalang untuk mencari narkoba
secara terang-terangan.
Mungkin anda pernah mendengar Kampung Bonang, sebuah kawasan padat penduduk
di belakang Tugu Proklamasi, tepatnya di RW 06 Kelurahan Pegangsaan, Kecamatan
Menteng, Jakarta Pusat. Bisa jadi RW 06 di Kampung Bonang adalah RW yang
memiliki RT terbanyak di Jakarta karena terdiri sampai 20 RT. Luas daerahnya
terbentang dari pintu air Manggarai sampai belakang Tugu Proklamasi.
Dulu daerah ini memang salah satu kawasan “bronx” atau kawasan rawan konflik
di Jakarta. Keamanan, ketenangan, dan kerukunan merupakan sesuatu yang sangat
sulit didapat di daerah ini. Penyebabnya adalah tawuran antar kampung yang
sering terjadi, maraknya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, serta
tingginya tingkat pengangguran. Perkelahian hampir tiap hari terjadi, diselingi
tawuran antar kampung yang bisa 4 sampai 5 kali dalam setahun.
“Musuh”' dari Kampung Bonang bisa berasal dari mana saja, terutama dari
Matraman dan Menteng Jaya. Kadang-kadang bahkan sampai daerah Berlan. Kalau
sudah “perang” jalanan dan pemukiman penduduk dijadikan medan tempur, tidak
sedikit pula rumah penduduk yang habis dibakar dan nyawa yang melayang.
Penyebabnya bisa bermacam-macam, bahkan hanya karena kereta lewat bisa memicu
tawuran. Tapi secara umum, narkoba serta banyaknya pengangguran adalah sumber
musabab. Setiap minggu ada saja seorang pemuda yang melayang nyawanya akibat
overdosis (OD) karena di daerah ini kurang lebih 40 % warganya adalah
penyalaguna dan pengedar narkoba.
Senam Aerobik Peredam Konflik
Konflik terus terjadi, tawuran yang tadinya hanya melibatkan pemuda melebar
sampai melibatkan ibu-ibu. Setiap ibu-ibu yang berasal dari daerah yang
bermusuhun bertemu, mereka pasti bertengkar bahkan sampai jambak-jambakan rambut
dan mempertunjukkan (maaf) bagian bokong untuk meledek satu sama lain. Sampai
pada tahun 2000, ketika tawuran antar kampung sedang sering-seringnya-sekelompok
warga yang merasa lelah karena konflik di wilayah mereka tidak kunjung padam
mencoba melakukun sesuatu, yaitu senam aerobik bersama di lapangan Gedung
Proklamasi.
Rodliana Siddik, sang instruktur senam menceritakan bahwa awal mula tercetus
ide senam aerobik bersama adalah karena dirinya berrtemu dengan seorang ibu dari
daerah Menteng Jaya, bernama Ibu Ratih. Di luar dugaan Rosdiana, bukannya
mengajak berantem (mengingat ibu itu dari daerah musuh), Ibu Ratih malah menegur
Rosdiana. Rupanya mereka berdua memilihi perasaan yang sama, prihatin dan lelah
dengan tawuran antar warga yang selama ini selalu melanda wilayah mereka. “Kita
berdua sepakat untuk tidak ikut-ikutan berantem. Malah kita berdua berfikir
bagaimana caranya agar tawuran, terutama tawuran antar ibu-ibu bisa berhenti.
Akhirnya karena saya instruktur aerobik saya mengajaknya untuk senam aerobik
bersama. Mulai saat itu setiap minggu pagi kita senam aerobik bersama di
lapangan Gedung Proklamasi," tuturRosdiana.
Awalnya senam bersama hanya diikuti oleh 6 ibu-ibu. Namun seiring waktu,
jumlahnya terus meningkat. Hasilnya memang tawuran antar warga belum berhenti,
tapi minimal tidak ada lagi ibu-ibuyang bertengkar dan jambak-jambakan rambut di
daerah tersebut. "Mereka malu sama saya yang mengajarkan senam kepada mereka,"
terang wanita yang selalu terlihat energik meski usianya telah mencapai kepala
4.
Upaya Rosdiana menggerakkan kaum ibu untuk ikut senam aerobik ini tidak
dilakukan sendirian. Sang suami, Megi Budi Sumarno yang kebetulan sama-sama
memiliki hobi olahraga dan selalu mengikuti senam aerobik pimpinan istrinya,
mendukung dan aktif mengajak ibu-ibu yang lain untuk ikut senam. Megi juga
selalu membantu agar kegiatan senam yang dilaksanakan setiap minggu pagi ini
bisa selalu terlaksana.
Bertemu Imam Prasodjo
Pada periode awal ibu-ibu melakukan senam aerobik, Megi melihat seorang pria
yang sedang melakukan joging di lapangan Proklamasi. Pria tersebut adalah
Dr.Imam Prasodjo, seorang sosiolog kenamaan dari Universitas Indonesia. Imam
kebetulan juga tinggal di wilayah sekitar Gedung Proklamasi. Dengan ramah Imam
menyapa ibu-ibu yang sedang senam. Minggu berikutnya Imam malah menyumbangkan
alat pemutar kasetnya untuk mereka. "Ini Pak Megi, saya nyumbang untuk senam,
kalau bisa Bapak cari anggota lebih banyak lagi." Dukung Imam kepada Megi. Ketua
Yayasan Nurani Dunia ini juga berjanji kepada Megi akan membantu penyediaan
seragam olahraga.
Melihat sosok seorang Imam yang begitu dermawan, Megi kemudian memberanikan
diri untuk bercerita tentang kondisi wilayah RW 06. "Saya pikir Pak Imam kan
sosok yang sering terlihat di tivi dan terkenal sering menolong orang-orang yang
sedang dalam konflik di berbagai daerah. Lalu saya beranikan diri ngobrol dengan
Pak Imam. Saya bilang karena Bapak kan kebetulan warga di wilayah kita dan
sering memberikan bantuan. Barang kali Bapak berkenan untuk maen ke dalam RW 06.
Di wilayah Bapak juga masih banyak yang perlu dibantu," ujar pria yang berasal
dari Bandung ini,
Tadinya Imam memang belum berani masuk ke wilayah RW 06. Akhirnya dengan
diantar oleh Megi, Imam berani melihat-lihat kondisi dan masalah-masalah yang
terjadi. Sejak saat itu, tepatnya sejak tahun 2002, Yayasan Nurani Dunia bersama
warga RW 06 melakukan program pemberdayaan komunitas. Bersama dengan warga,
Nurani Duma mengajak beberapa perusahaan yang ada di sekitar Jalan Proklamasi
seperti Majalah Tempo dan Sisindosat untuk ikut terlibat dalam usaha
pengembangan komunitas ini.
Selanjutnya, Imam mengajak beberapa kenalan meninjau wilayah RW 06, di
antaranya Bambang Harimurti, Pemimpin Redaksi Majalah Tempo saat itu. Majalah
Tempo kemudian memberikan bantuan dengan membuat satu lapangan bulutangkis.
"Kita juga coba bikin kegiatan-kegiatan yang lain. Terbentuklah Forum Warga
Cinta Damai, tujuannya agar tawuran bisa berkurang. Dengan bantuan Yayasan
Nurani Dunia, Bank Mandiri memberikun bantuun 500 lembar kaos olahraga untuk
senam yang bertuliskan Forum Warga Cinta Damai," papar Rosdiana girang.
Setelah ibu-ibu di kawasan itu bersatu lewat senam aerobik, sedikit demi
sedikit tawuran kian berkurang. “Dengan adanya ibu-ibu bersatu, setiap ada
tawuran bukan polisi tapi ibu-ibu yang kita terjunkan. Akhirnya anak-anak remaja
yang pada berantem kan pada bingung dan malu, masa mau berantem sama ibunya
sendiri. Sejak saat itu mulai berkurang karena pada minder. Di samping itu kita
juga kerjasama dengan Polres bahwa siapa biang keladinya kita angkut dulu.
Alhamdulillah sekarang sudah berkurang tawurannya.” Tutur Megi.
Lahirnya RBKP
Tahun 2003, setahun setelah Forum Warga Cinta Damai terbentuk, tawuran sudah
jauh berkurang. Namun permasalahan sosial yang lain masih ada, seperti
penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba serta masih banyaknya pengangguran.
Bersama warga, Nurani Dunia kemudian mencari sponsor untuk membentuk pusat
pelatihan berbagai kegiatan yang telah dirancang bersama warga untuk
menanggulangi masalah-masalah sosial tadi.
Akhirnya GE Consumer Finance (GECF) bersedia menjadi sponsor dengan membiayai
harga sewa sebuah rumah yang dijadikun pusat pelatihan yang diberi nama "Rumah
Belajar Komunitas Proklamasi" (RBKP). Megi akhirnya dipercaya untuk mcnjadi
Koordinator RBKP dan Project Officer Community Development Program di Nurani
Dunia.
Dengan adanya RBKP ini, masyarakat secara aktit mengembangkan berbagai
kegiatan di antaranya pengajian remaja, marawis, komputer, desain grafis, sablon
dan ilmu pemasaran. "Tujuannya agar mereka tidak main liar atau main di
tempat-tempat yang berpotensi terkena narkoba," ucap Megi.
Menurut Megi, walaupun RBKP belum pernah dikunjungi oleh orang-orang penting
di negeri ini, namun Karen P Hughes, Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat
(AS) bidang Diplomasi Publik dan Hubungan Masyarakat yang didampingi Duta Besar
AS untuk Indonesia saat itu, Lynn Pascoe pernah menyusuri gang selebar 1,5 meter
di kawasan RW 06 untuk mengunjungi RBKP Da1am acara buka puasa bersama tersebut,
Karen dan Pascoe membagikan tas sekolah beserta isinya yang bertuliskan "Salam
perdamaian dari anak-anak Amerika" kepada 200 anak-anak. Selain Karen,
perwakilan dari tujuh kedutaan besar di Jakarta pun sudah pernah mengunjungi
RBKP.
Program-program yang dilakukan di RBKP secara umum meliputi empat program,
yaitu pendidikan, kesehatan dan lingkungan, pemberdayaan ekonomi, serta olahraga
dan seni. Dalam bidang pendidikan, pemuda-pemuda di kawasan RW 06 dcngan
sukarela mengajarkan bahasa Inggris, matematika, komputer, serta pelajaran
lainnya kepada anak-anak SD. Sedangkan untuk anak-anak SMP dan SMU, pelajaran
komputer, desain grafis, sablon, dan pemasaran, bisa mereka ikuti.
Membuat Oshibana Di bidang pemberdayaan ekonomi, ibu-ibu mendapatkan
pelatihan membuat kartu oshibana (kartu dengan hiasan daun/bunga kering).
Kesenian yang berasal dari negeri sakura ini diajarkan langsung oleh Mutia yang
tidak lain adalah adik Imam Prasodjo sendiri, Mutia yang pernah tinggal di
Jepang, dengan sukarela dan atas dasar kemauannya sendiri melatih ibu-ibu agar
bisa membuat oshibana. Apabila hasilnya bagus, satu kartu oshibana dihargai 1
dollar AS atau sekitar 9.000 rupiah. Sampai saat ini baru enam orang yang mampu
menghasilkan kartu oshibana dengan kualitas yang bagus. Rata-rata mereka
mendapatkan pendapatan tambahan mencapai 800 ribu - 1,5 juta rupiah.
Selain membuat oshibana, RBKP dan Nurani Dunia juga berusaha mengurangi
tingkat pengangguran. Bekerjasama dengan perusahaan sekitar wilayah, beberapa
remaja sesuai pendidikannya mendapat kesempatan praktek kerja. Beberapa orang di
antara mereka mendapatkan kesempatan kerja secara permanen.
Di bidang olahraga dan seni, kegiatan senam aerobik setiap minggu pagi tetap
rutin dilaksanakan. Selagi para ibu melakukan senam, anak-anaknya bisa belajar
melukis. Sedangkan di bidan kesehatan, dokter-dokter dari Mercy biasanya
menggelar pengobatan gratis tiap tahunnya.
lkut Menanggulangi Masalah Narkoba
Sadar bahwa daerah yang mereka tinggali tinggi tingkat penyalahgunaan dan
peredaran narkoba, masyarakat RW 06 pun serius untuk menanggulangi permasalahan
tersebut. Secara tidak langsung, berdirinya RBKP telah menurunkan tingkat
penyalahgunaan narkoba di daerah itu. Hal ini sesuai dengan fokus utama mrreka,
yaitu menyelamatkan para pemuda yang belum terkena narkoba. Untuk para pemuda
yang sudah kena narkoba, Megi mengatakan bahwa ia beserta para remaja yang aktif
menjadi anggota RBKP selalu mengajak mereka untuk sembuh. “Saya selalu tawarkan
apakah mereka mau direhab atau tidak. Kalau mau, kita akan urus surat-suratnya
dan akan di rujuk ke Panti Rehabilitasi Pamardisiwi di BNN, “ Papar Megi.
Hasilnya sungguh menggembirakan. Selain tingkat penyalahgunaan narkoba
menurun, masyarakat pun secara aktif berani mengusir para pembeli narkoba yang
datang ke wilayah tersebut. Akibatnya tingkat peredaran narkoba pun menurun.
Sebuah keberhasilan yang patut ditiru oleh kumunitas masyarakat yang lain.
Dibutuhkan lebih banyak Imam, Megi, Mutia, Rosdiana, dan orang-orang yang peduli
lainnya, agar setiap komunitas masyarakat di wilayah-wilayah lain di tanah air
bisa berswadaya dan memiliki kualitas kehidupan yang lebih baik. Anda
terinspirasi ?