
Dalam rangka mendukung pengembangan kualitas guru di Indonesia, Nurani Dunia
bersama dengan PT. Insight Investment Management (PT. IIM), memfasilitasi
berdirinya YAYASAN CAHAYA GURU (YCG) pada tanggal 14 Juli 2006.
Menindaklanjuti pendirian Yayasan Cahaya Guru tersebut, pada hari Rabu, 13
September 2006, telah diadakan acara penandatanganan kerjasama (MOU) antara
Yayasan Cahaya Guru (YCG) dengan PT Insight Investments Management (PT. IIM).
Pada acara tersebut YCG diwakili oleh Imam B. Prasodjo (Ketua Dewan Pembina) dan
Henny Supolo Sitepu (Ketua Dewan Pengurus), sementara PT. IIM diwakili oleh
Haminanto Adi Nugraha (Direktur Utama) dan Gunanta Afrima (Direktur). Acara ini
juga disaksikan sejumlah calon investor (mitra bisnis) PT. IIM, di antaranya PT.
Karakatau Steel, Asuransi Jiwasraya, PT. Taspen, Bank Niaga, dan lain-lain.
Penandatanganan Kerjasama
Pada acara penandatanganan tersebut, Dr. Imam Prasodjo, Ketua Dewan Pembina
YCG, mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi pendidikan di Indonesia.
"Saat ini, secara fisik banyak gedung sekolah terancam roboh dan jumlah
kelas yang tidak cukup. Hal ini diperparah lagi dengan tidak meratanya guru yang
mengajar, sehingga beberapa daerah harus merekrut Guru Honor Daerah / Guru Bantu
Sekolah yang seringkali gajinya sangat rendah dan kualitas SDM pun rendah. Tidak
heran, kalau bangsa ini menjadi penghasil tenaga kerja termurah di dunia"
ujar Imam Prasodjo, yang juga Direktur Nurani Dunia.
Rasa keprihatinan akan kondisi pendidikan, khususnya guru-guru di Indonesia,
telah melatarbelakangi terbentuknya Yayasan Cahaya Guru. Dengan semangat membuat
sebuah perubahan, diharapkan YCG dapat membantu para guru di Indonesia dengan
serangkaian program peningkatan kapasitas guru, penyediaan sarana pendidikan
kreatif dan peningkatan kesejahteraan guru.
Pada kesempatan ini juga, Dr. Imam. B. Prasodjo mengingatkan pentingnya
kejujuran dan komitmen semua pihak. "Tanpa kejujuran, kepercayaan tidak
akan pernah ada" kata Imam. Beliau juga mengajak semua pihak untuk
berpartisipasi, karena YCG adalah lembaga non-profit yang peduli terhadap
pendidikan dan bersifat independen, terbuka untuk bekerja sama dengan berbagai
pihak yang peduli terhadap pendidikan. "Mari membuat yang berbeda. YCG akan
mengupayakan program-program yang dapat memberikan dampak multi efek bagi bangsa
ini" ujar mas Imam.
PT. IIM adalah suatu perusahaan yang bergerak di bidang manajemen investasi
dan telah mendapatkan ijin sebagai manajer investasi sesuai dengan ketentuan
hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, terutama yang
menyangkut pasar modal dan jasa keuangan. PT IIM bermaksud untuk menerbitkan
suatu produk jasa keuangan dengan nama Reksa Dana Guru. Sebagian management fee
dari Reksa Dana Guru akan digunakan untuk mendukung program-program YCG.
Peluncuran Yayasan Cahaya Guru dan Reksa Dana Guru
Setelah penandatanganan MOU, pada hari Rabu, 15 November 2006, bertempat di
Batur-Rinjani Room, Mercantile Athletic Club, Penthouse Floor, World Trade
Center, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 31, Jakarta, telah dilangsungkan peluncuran
secara resmi Yayasan Cahaya Guru dan Reksa Dana Guru. Kegiatan ini terlaksana
atas kerjasama Yayasan Cahaya Guru dan PT IIM.
Prof. Dr. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Menteri Koordinator Perekonomian
Republik Indonesia dalam Kabinet Gotong Royong, memberikan pidato utama (keynote
speech) dalam acara peluncuran itu. Pada kesempatan tersebut, ekonom senior yang
memiliki kiprah internasional ini dan memperoleh The Walter and Elise Haas
International Award pada 2003, mengatakan pentingnya kepedulian sosial
dikembangkan. Oleh karena itu, menurutnya, di masa akan datang bukan saja Reksa
Dana Guru bisa dikembangkan, tapi juga Reksa Dana untuk ABRI, Polri, dan
lain-lainnya.
Henny Supolo Sitepu, Ketua Dewan Pengurus Yayasan Cahaya Guru, pada
kesempatan tersebut mengatakan bahwa Yayasan Cahaya Guru akan memfokuskan diri
pada pengembangan kualitas profesi dan kesejahteran guru Indonesia. "Tanpa
guru yang trampil dan sejahtera, kita tak mungkin mengharapkan adanya bangsa
yang bermartabat dan punya karakter," kata penyandang Master bidang
Kurikulum dan Pengajaran dari Michigan State University, Amerika Serikat. Lebih
lanjut, menurut Henny Supolo, dalam kegiatan sehari-hari, yayasan ini akan
membantu meningkatkan kemampuan guru melalui pelatihan-pelatihan yang bertujuan
mengasah ketrampilan, meningkatkan pengetahuan serta membentuk sikap dan
perilaku positif sebagai pendidik. Di samping itu, yayasan juga akan secara
konkret menyediakan sarana dan prasarana pendukung proses belajar-mengajar yang
efektif. Tapi, yang tak kalah penting, yayasan juga akan membantu guru
meningkatkan kesejahteraannya, misalnya lewat latihan-latihan manajemen atau
pemberian kredit usaha kecil untuk memaksimalkan produktivitas pengelolaan
sumber daya yang mereka miliki.
Dr. Imam Prasodjo, salah satu pendiri Yayasan Cahaya guru, mengatakan bahwa
saat ini terdapat sekitar 2.9 juta guru yang menangani generasi muda Indonesia.
Bila setiap guru rata-rata membimbing 20 anak setiap tahunnya, maka sedikitnya
terdapat 58 juta anak-anak nasibnya berada di tangan mereka. "Kualitas
seperempat penduduk di negeri ini ditentukan oleh guru-guru kita yang ada di
kota dan di desa, yang saat ini begitu banyak yang menderita dan hidup dalam
segala keterbatasan informasi, fasilitas serta ekonomi. Apa yang diharapkan
bangsa ini bila para pendidik yang menjadi ujung tombak transfer ilmu,
keahlian/ketrampilan dan nilai-nilai luhur terpuruk pada titik yang terendah?
Sungguh, bangsa ini memang telah lama melecehkan peran guru. Karena itu,
wajarlah bila bangsa ini telah menjelma menjadi bangsa kuli, penuh dengan
pekerja tak terdidik, produk dari sikap yang melecehkan pendidikan" ujar
Imam Prasodjo.
Lebih lanjut dikatakan pula bahwa bila ingin masa depan Indonesia lebih
cerah, maka mau tidak mau harus mengubah cara berfikir dan cara pandang kita
terhadap pendidikan, dengan menempatkan pentingnya peran guru sebagai agen
perubahan. "Peran guru harus kita agungkan tidak hanya dengan ucapan di
bibir, tetapi dengan melakukan langkah nyata, membantu mengembangkan kapasitas
mereka, meningkatkan ilmu pengetahuan mereka, menyediakan berbagai perangkat
pengajaran yang lebih memadai, dan membantu mereka untuk dapat kehidupan lebih
wajar, lebih sejahtera, dan lebih bermartabat," kata Imam.
Menurut Imam, sudah sewajarnya pemerintah harus memegang peran penting.
Namun, manakala pemerintah mengalami berbagai keterbatasan, maka seluruh elemen
anak negeri yang peduli pada pendidikan dan masa depan anak, harus bahu membahu
melakukan langkah-langkah penyelamatan. Manakala segenap kalangan di Indonesia,
baik pemerintah, pengusaha, dan warga masyarakat biasa, bergabung bersama
mendukung perbaikan kualitas guru, niscaya masa depan bangsa ini akan lebih
cerah. "Saya yakin bila hal ini kita kumandangkan bersama, maka gerakan
peduli pendidikan, peduli terhadap nasib guru di Indonesia akan menjadi gerakan
yang mampu melakukan perubahan besar. Mengapa kita tidak lakukan sekarang
juga?!" demikian Imam.
Tri Agung Winantoro, Manajer Investasi PT. IIM, mengatakan bahwa program
Reksa Dana Guru merupakan cara yang tepat bagi investor untuk mendukung
program-program pengembangan kualitas guru. Pada kesempatan tersebut, Manajer
Investasi PT. IIM ini berharap agar program Reksa Dana Guru dapat memberikan
kontribusi nyata dalam memajukan dunia pendidikan Indonesia. Reksa Dana Guru
dipromotori antara lain oleh PT Taspen (Persero), PT Asuransi Jiwasraya
(Persero), Dana Pensiun Krakatau Steel, dan PT Asuransi Umum Bumiputera Muda
1967.
Yayasan Cahaya Guru sendiri berharap kepedulian PT. IIM terhadap dunia
pendidikan akan diikuti banyak lembaga lain. Yayasan Cahaya Guru yakin bahwa
bersama-sama kita dapat semakin meningkatkan kualitas dan kesejahteraan guru,
sehingga kualitas pendidikan bangsa Indonesia pun akan terus membaik.